Lawan Skor PISA Rendah, Literasi Dasar dan Keuangan Digencarkan di Yogyakarta
Posisi Indonesia yang menduduki peringkat ke-63 dari 81 negara dalam studi PISA 2022 menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan.
TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA – Posisi Indonesia yang menduduki peringkat ke-63 dari 81 negara dalam studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan.
Merespons rendahnya kemampuan membaca pelajar tanah air, upaya penguatan literasi kini mulai digencarkan hingga ke tingkat sekolah dasar di pelosok daerah.
Salah satu langkah nyata terlihat di SD Muhammadiyah Worawari, Kulon Progo.
Di sekolah ini, sebuah "Pojok Baca" baru saja diresmikan untuk memantik minat baca 49 siswanya.
Kehadiran fasilitas berupa rak dan koleksi buku bacaan ini diharapkan mampu mengubah budaya literasi dari sekadar kewajiban menjadi aktivitas yang menyenangkan.
"Membangun kebiasaan membaca sejak dini adalah langkah krusial untuk membentuk generasi yang kritis," ujar Anna Maria Chosani, Direktur PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat) saat menyerahkan bantuan melalui program GROW with RupiahCepat, Jumat (8/5/2026).
Menariknya, edukasi yang diberikan tidak berhenti pada literasi bahasa.
Para siswa juga mulai diperkenalkan dengan konsep pengelolaan keuangan sederhana, seperti membedakan antara kebutuhan dan keinginan serta pentingnya menabung, yang disampaikan lewat permainan dan video interaktif.
Baca juga: Bos Bank Indonesia Klaim Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat di Tengah Konflik Timur Tengah
Kepala SD Muhammadiyah Worawari, Sri Pujilestari, mengakui bahwa fasilitas semacam ini sangat dibutuhkan untuk memperluas cakrawala berpikir siswa di luar kurikulum formal.
Selain menyasar pendidikan dasar, penguatan literasi juga menyentuh level perguruan tinggi.
Di Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta, ratusan mahasiswa dibekali pemahaman mengenai manajemen arus kas dan prinsip budgeting.
Langkah ini diambil mengingat mahasiswa merupakan kelompok paling aktif dalam ekosistem keuangan digital, namun sering kali terjebak dalam perilaku konsumtif.
Melalui program "Pindar Mengajar" yang diinisiasi bersama AFPI, mahasiswa didorong untuk lebih produktif dalam memanfaatkan layanan keuangan, misalnya untuk kebutuhan pendidikan atau pengembangan usaha.
"Penting bagi mahasiswa untuk tidak sekadar memiliki akses ke layanan digital, tapi juga punya pemahaman kuat agar bertanggung jawab dan tidak konsumtif," tambah Anna.
Rangkaian inisiatif ini menjadi potret bahwa tantangan rendahnya literasi di Indonesia harus diselesaikan secara kolaboratif, mulai dari bangku sekolah dasar hingga pendidikan tinggi, guna menciptakan masyarakat yang lebih adaptif di era digital.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Anna-Maria-Chosani-kanan.jpg)