Tribunners / Citizen Journalism
Lima Pilar Menuju PBNU yang Membumi dan Berwibawa
Menuju dan pasca-Muktamar ke-35 nanti, NU memerlukan lima ikhtiar bersama agar jam’iyyah ini tetap kokoh di akarnya
Mereka tidak boleh hanya dicatat namanya dalam struktural, tetapi minim panggung untuk mengeksplorasi kreativitas.
Bagi para profesional ini, jabatan struktural bukanlah yang utama; mereka hanya butuh ruang untuk menyalurkan keahlian sebagai wujud penunaian amanah ilmu.
Keahlian di sektor pertanian, peternakan, keuangan, perdagangan, koperasi, dan bisnis syariah sangat dibutuhkan untuk menggerakkan roda ekonomi warga nahdliyyin.
Sementara itu, keahlian di bidang administrasi, IT, dan tata kelola organisasi sangat mendesak untuk memodernisasi sistem layanan jam’iyyah.
4. Memberi Ruang Luas bagi Wilayah dan Cabang untuk Berkreasi
Kearifan lokal adalah modal terbesar NU, bukan penghalang bagi persatuan.
Karakteristik NU di Jawa Timur tidak bisa dipaksakan untuk diterapkan di Kalimantan Selatan. Begitu pula tradisi ber-NU di Banten, tidak serta-merta bisa dicangkokkan ke Papua.
PBNU bukanlah komandan militer bagi barisan NU di berbagai pulau.
PBNU adalah koordinator yang bertugas mengorkestrasi keserasian gerak pelayanan.
Unit terkecil NU di bawah bergerak bukan karena instruksi top-down dari Jakarta, melainkan karena merespons kebutuhan nyata di lapangan.
Faktanya, banyak sekali amal usaha sukses di tingkat PCNU yang lahir dari patungan dan gotong royong warga—mulai dari pertanian, rumah sakit, klinik, pendidikan, jasa keuangan, hingga lembaga filantropi.
Semua berkembang karena dirintis dari bawah dan dikontrol langsung oleh warga.
Dalam konteks ini, tugas PBNU cukup mencakup tiga hal: memberi rambu pemandu, menyediakan panggung untuk berkembang, dan memberikan perlindungan hukum serta organisasi.
Jangan sampai urusan kreasi di tingkat bawah tersandera birokrasi, di mana pengurus ranting mau membuat kegiatan pun merasa takut salah karena belum ada izin pusat.
Berikan keleluasaan berinovasi, selama tidak keluar dari akidah, fikrah, dan khittah NU.
5. Melandasi Kebijakan Strategis dengan Hujjah Fiqhiyyah Sesuai Tradisi
NU tidak pernah alergi terhadap perubahan, namun NU memiliki metodologi tersendiri dalam menghadapi zaman.
Setiap kebijakan strategis—mulai dari sikap politik, advokasi hukum, penyesuaian sistem pendidikan, respons terhadap krisis iklim, hingga fatwa terkait ekonomi digital—semestinya lahir dari kedalaman hujjah fiqhiyyah.
Kitab kuning (kutubut turats) yang membentuk kepribadian NU bukan sekadar pajangan perpustakaan. Qawaidul Fiqhiyyah bukan hiasan jargon di arena muktamar.
Kaidah “Al-muhafazhatu ‘ala al-qadimi al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah” (merawat tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik) bukan sekadar pemanis spanduk, melainkan metodologi berpikir (manhajul fikr) yang harus menjiwai setiap keputusan organisasi.
Dengan landasan inilah citra diri dan marwah jam’iyyah NU dipertaruhkan.
Dengan konsistensi ini, NU akan tetap relevan tanpa kehilangan identitasnya.
NU akan terus melangkah di jalur kemajuan tanpa harus tercerabut dari akar tradisinya atau hanyut dalam arus modernitas yang sekuler.
NU akan tetap membumi di bumi, namun tetap memiliki kompas spiritual dari langit sebagai navigasi gerakannya.
Baca juga: Petahana Ketum PBNU dan Kiai Imjaz Duduk Semeja di PMKNU Cirebon
Penutup
Akhirnya, lima pilar sederhana yang lahir dari suasana kebatinan PCNU se-Jawa Tengah ini bukanlah tuntutan yang muluk-muluk.
Ini adalah panduan kerja untuk berkhidmat bersama-sama.
Jika kelima hal ini dijalankan, PBNU akan kembali menjadi rumah yang nyaman: kepengurusannya adem, warganya merasa ayem, dan khidmat kepada umat pun terasa marem.
NU didirikan bukan untuk menjadi menara gading yang menjulang tinggi tetapi sepi.
NU didirikan untuk menjadi tenda besar; tempat berteduh bagi siapa saja yang lelah, tempat kembali bagi siapa saja yang tersesat, dan tempat bertolak bagi siapa saja yang ingin berjuang.
Dan semua kemuliaan itu harus dimulai dari satu langkah awal: rekonsiliasi menyeluruh untuk merawat persaudaraan demi khidmat dalam kesatuan.
////////////
*Penulis adalah:
- Pengasuh PP Mamba'ul Ma'arif Denanyar, Jombang, Jawa Timur.
- Santri yang diminta dan diperintah oleh Guru-Kiai-nya untuk Berikhtiar Menjadi Ketua Umum PBNU melalui Muktamar ke-35.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KH-Abdussalam-Shohib-Pengasuh-PP-Mambaul-Maarif-Denanyar.jpg)