Sabtu, 23 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

RUU Sisdiknas: Saatnya Nilai Soft Skill Dicantumkan dalam Ijazah

Era kerja berubah, ijazah tak lagi cukup. Pendidikan harus cetak manusia adaptif, kreatif, berkarakter, dan siap hadapi dunia nyata.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Glery Lazuardi
theeducatoronline.com
PENDIDIKAN - Era kerja berubah, ijazah tak lagi cukup. Pendidikan harus cetak manusia adaptif, kreatif, berkarakter, dan siap hadapi dunia nyata. 

Ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan Indonesia bukan semata kepemilikan ijazah, tetapi adanya ketidaksesuaian antara apa yang diajarkan sekolah dengan apa yang dibutuhkan dunia nyata.

Karena itu, justru sekarang sudah saatnya ijazah kembali memiliki makna yang kuat dan terpercaya. Sudah saatnya ijazah benar-benar mampu menggambarkan bahwa seseorang:

“terjamin kompetensinya, siap untuk bekerja, siap untuk berkarya, bahwa akreditasi menjamin mutu, dan bahwa masuk kelas benar-benar menjamin belajar.”

Dan untuk mewujudkan hal tersebut, peran guru dan dosen menjadi sangat menentukan.

Karena guru dan dosen sejatinya adalah chef (juru masak) pendidikan. Mereka bukan sekadar pengajar yang memindahkan teori ke ruang kelas, tetapi perancang kualitas manusia masa depan.

Sebagus apa pun kurikulumnya, semegah apa pun gedung kampusnya, dan setinggi apa pun akreditasinya, apabila “chef”-nya tidak mampu mengolah proses pendidikan dengan baik, maka hasil akhirnya tidak akan melahirkan lulusan yang benar-benar matang menghadapi dunia nyata.

Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan bukan hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan, tetapi oleh manusia seperti apa yang berhasil dibentuk.

Soft Skill Masih Menjadi “Anak Tiri”

Selama ini soft skill memang sering dibahas di seminar, symposium, pelatihan, hingga FGD. Namun dalam praktiknya, soft skill masih sering diposisikan sebagai pelengkap, bukan inti pendidikan.

Padahal banyak penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang justru lebih banyak dipengaruhi oleh soft skill dibanding hard skill semata.

Penelitian Harvard University, Carnegie Foundation, dan Stanford Research Center pernah menyebutkan bahwa sekitar 85 persen keberhasilan karier dipengaruhi oleh soft skill dan hanya sekitar 15% dipengaruhi kemampuan teknis (hard skill).

Namun anehnya, aspek yang paling menentukan keberhasilan hidup justru belum diukur serius dalam system penilaian ijazah nasional.

Akibatnya lahirlah paradoks: nilai akademik tinggi tetapi kemampuan komunikasi rendah, IPK bagus tetapi tidak mampu bekerja dalam tim, cerdas secara teori tetapi rapuh menghadapi tekanan.

Belajar dari Negara Lain

Beberapa negara maju sudah mulai mengintegrasikan soft skill ke dalam sistem pendidikan nasional mereka.

Finlandia memasukkan transversal competencies ke dalam kurikulum nasional, seperti kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, partisipasi sosial, dan kemampuan belajar sepanjang hayat.

Singapura bahkan membangun konsep 21st Century Competencies yang menempatkan komunikasi, kolaborasi, karakter, literasi global, dan kemampuan adaptasi sebagai inti pendidikan nasional.

Sesuai Minatmu

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved