Rabu, 3 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Pimpinan BGN Diganti

Ada Blunder Komunikasi di Balik Pencopotan Dadan

Pencopotan Dadan Hindayana dari kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bisa dibaca sebagai evaluasi biasa. 

Tayang:
Editor: Hasanudin Aco
Tribunnews.com/Fersianus Waku
KEPALA BGN DICOPOT - Dadan Hindayana saat masih menjabat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) berbicara kepada pers di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026) lalu. Kini, Dadan dicopot dari jabatannya. 

Masalah berikutnya adalah kecenderungan untuk berbicara terlalu banyak.

Hampir setiap isu memperoleh komentar. Hampir setiap rumor diberi tanggapan. Hampir setiap polemik dijawab secara terbuka. Padahal dalam politik, kemampuan berbicara sering kali kalah penting dibanding kemampuan memilih apa yang tidak perlu dibicarakan.

Polemik Arab Saudi hanyalah satu episode dari rangkaian kontroversi yang mengikuti Dadan selama memimpin BGN.

Dalam beberapa bulan terakhir, ia berulang kali menjadi pusat perhatian karena berbagai pernyataan yang memicu perdebatan.

Mulai dari kebutuhan konsumsi susu hingga dua liter per hari, wacana pemanfaatan serangga sebagai sumber protein alternatif, hingga berbagai target ambisius yang disampaikan jauh sebelum publik melihat hasil nyata di lapangan.

Sebagian pernyataan itu mungkin lahir dari perspektif akademik. Namun politik bukan ruang seminar. Pernyataan pejabat negara dinilai bukan dari niatnya, melainkan dari dampaknya.

Masalahnya, setiap kontroversi baru membuat perhatian publik bergeser. Diskusi mengenai kualitas gizi anak-anak berubah menjadi perdebatan tentang ucapan pejabat yang mengelola program tersebut.

Pada saat yang sama muncul berbagai isu lain, mulai dari laporan terkait dugaan mark-up sertifikasi halal senilai Rp49 miliar, sorotan terhadap pengadaan 21.800 unit motor listrik, hingga kritik terhadap tata kelola MBG.

Belum tentu semua kritik itu benar. Belum tentu semua tuduhan terbukti. Namun dalam komunikasi politik, persepsi sering kali lebih berpengaruh daripada fakta.

Ketika kontroversi terus muncul tanpa jeda, masyarakat mulai melihat semuanya sebagai satu kesatuan. Bukan lagi persoalan teknis yang terpisah-pisah, melainkan kesan umum bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

Hal itu tercermin dalam berbagai polling media sosial yang menunjukkan tingginya ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinan Dadan. Salah satu polling bahkan menunjukkan sekitar 82 persen responden menginginkan dirinya mundur.

Belum selesai kontroversi tersebut, muncul lagi wacana perluasan MBG ke Arab Saudi. Secara substansi, gagasan itu mungkin tidak salah. Namun komunikasi politik bukan hanya soal benar atau salah. Komunikasi politik adalah soal prioritas.

Ketika berbagai persoalan implementasi masih terjadi di dalam negeri, publik justru mendengar rencana ekspansi ke luar negeri. Akibatnya muncul kesan bahwa pemerintah sedang memikirkan cabang baru ketika rumah utamanya belum selesai dibangun.

Kemudian muncul lagi polemik mengenai isu pemangkasan anggaran MBG sebesar Rp67 triliun.

Saat publik memperdebatkan apakah anggaran dipangkas atau tidak, BGN justru masuk ke arena polemik dengan menjelaskan bahwa anggaran mereka tetap Rp268 triliun.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved