Senin, 8 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Putra Sang Fajar yang Tak Pernah Padam: Mewarisi Api Soekarno di Tengah Badai Zaman

Pemikiran Soekarno berdiri tegak sebagai mercusuar yang tak lekang oleh waktu bahkan hingga saat ini.

Tayang:
Editor: Hasanudin Aco
Kemendagri.go.id
Soekarno, Bapak Bangsa, Proklamator, dan Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. 

Kebesaran pemikiran Soekarno tidak lahir dari ruang hampa. Ia adalah hasil kristalisasi dari persilangan dua kebudayaan besar yang mengalir deras dalam darahnya. Ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo, adalah seorang guru dari Jawa Timur yang mewariskan nilai-nilai priyayi, kedalaman
kebatinan Jawa, serta pemahaman yang luas tentang teosofi dan ajaran Islam.

Sementara ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah seorang Hindu dari Buleleng, Bali, yang menanamkan keberanian, nilai-nilai spiritualitas yang dinamis, serta jiwa pantang menyerah (puputan).

Dari rahim Bali dan tanah Jawa inilah lahir sebuah sintesis kultural yang luar biasa. Soekarno tumbuh menjadi sosok yang sangat toleran, inklusif, dan kaya akan nilai kebaikan.

Kebatinan Jawa memberinya kemampuan untuk menempatkan diri (tepo seliro), memahami harmoni kosmis, dan memiliki visi yang jauh ke depan. Di sisi lain, darah Bali memberinya nyala api keberanian, keindahan estetika dalam berpidato maupun berpolitik, serta rasa cinta yang mendalam terhadap seni dan kemanusiaan.

Perpaduan ini membentuk DNA Nasionalisme Soekarno. Ia tidak melihat Indonesia sebagai milik satu suku atau satu agama. Baginya, ke-Indonesiaan adalah sebuah taman sari internasionalisme, di mana berbagai bunga dengan warna berbeda dapat mekar bersama. Keberagaman bukan sekadar
konsep politik baginya, melainkan realitas sosiologis yang ia hidupi sejak lahir.

Mahakarya Pemikiran: Dari Marhaenisme hingga Pancasila Warisan terbesar Bung Karno bukanlah sekadar memimpin Proklamasi 17 Agustus 1945 bersama Bung Hatta, melainkan pondasi filosofis dan cetak biru (blueprint) ideologis yang ia letakkan agar bangsa ini tidak runtuh dihempas zaman. Pemikiran Soekarno adalah sebuah bangunan yang utuh, sebuah tritunggal gagasan yang saling bertaut: Marhaenisme, Pancasila, dan Trisakti.

Akar dari seluruh perjuangan Soekarno bermula dari Marhaenisme, sebuah gagasan yang lahir dari pertemuannya dengan seorang petani kecil bernama Marhaen di selatan Bandung.

Pemikiran ini adalah embrio dari keberpihakan mutlak pada rakyat kecil (wong cilik) yang memiliki alat produksi namun tetap hidup melarat karena tergilas sistem kapitalisme dan kolonialisme yang4
menindas. Marhaenisme adalah "roh" atau alasan utama mengapa kemerdekaan harus direbut; yakni untuk membebaskan rakyat dari belenggu kemiskinan struktural.

Namun, untuk membebaskan kaum Marhaen, sebuah negara merdeka membutuhkan dasar berpijak yang kokoh. Ketika Bung Karno merenung di bawah pohon sukun di pengasingannya di Ende, Flores, ia melakukan penggalian spiritual dan intelektual yang mendalam. Puncaknya terjadi pada 1 Juni 1945, di hadapan sidang BPUPKI, ketika ia merumuskan falsafah dasar negara: Pancasila.

"Aku tidak mengatakan, bahwa aku menciptakan Pancasila. Apa yang kerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, tradisi-tradisi kami sendiri, dan aku menemukan lima butir mutiara yang indah." — Ir. Soekarno Pancasila di tangan Soekarno adalah dialektika dari nilai-nilai luhur nusantara dan pemikiran modern.

Ia menyatukan keimanan kepada Tuhan, kemanusiaan yang universal, nasionalisme yang kokoh, demokrasi yang mengakar pada musyawarah, dan keadilan sosial. Jika diperas, kelima sila itu menjadi Ekasila: Gotong Royong. Pancasila adalah "fondasi filosofis" atau Philosofische Grondslag, yang memastikan negara ini berdiri untuk semua golongan, bukan satu keluarga saja.

Jika Marhaenisme adalah alasan kita berjuang dan Pancasila adalah fondasi rumah kebangsaan kita, maka bagaimana cara bangsa ini bertahan di tengah ganasnya pergaulan dunia? Jawabannya dirumuskan Soekarno dalam ajaran Trisakti (1964).

Trisakti adalah pengejawantahan atau senjata operasional dari Pancasila dan Marhaenisme. Bung Karno sadar, keadilan sosial bagi kaum Marhaen (Sila ke-5 Pancasila) mustahil tercapai jika bangsa ini masih bisa disetir oleh kekuatan asing.

Oleh karena itu, ia mencetuskan tiga pilar mutlak: Berdaulat dalam Politik, Berdikari dalam Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan.

Korelasi ketiganya sangatlah magis dan tak terpisahkan: Kita tidak akan pernah bisa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur (Tujuan Marhaenisme) serta menjaga keutuhan nilai ketuhanan hingga keadilan (Nilai Pancasila), apabila secara politik kita tunduk pada imperialisme baru, secara ekonomi kekayaan alam kita dikuras asing, dan secara budaya kita kehilangan jati diri (Ancaman yang dijawab oleh Trisakti).

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved