Tribunners / Citizen Journalism
Putra Sang Fajar yang Tak Pernah Padam: Mewarisi Api Soekarno di Tengah Badai Zaman
Pemikiran Soekarno berdiri tegak sebagai mercusuar yang tak lekang oleh waktu bahkan hingga saat ini.
Ketiga mahakarya pemikiran inilah yang menjadi "Kaca Benggala" tak lekangoleh waktu. Sebuah kompas yang sangat krusial untuk kita buka kembali hari ini, tatkala kapal Republik Indonesia sedang berlayar di tengah ganasnya badai zaman.
Menggunakan Kompas Soekarno Menghadapi Badai Masa Kini
Hari ini, bangsa Indonesia dihadapkan pada ombak besar yang berbeda wujudnya dari era kolonial, namun membawa ancaman yang sama mematikannya. Ketegangan geopolitik antar-negara adidaya, krisis ekonomi dan ancaman resesi, serta krisis moral dalam penegakan hukum dan korupsi
menjadi ujian berat bangsa.
Bagaimana kita meneruskan perjuangan beliau? Jawabannya ada pada manifestasi Trisakti, tiga pilar kemandirian yang digagas Soekarno:
1. Berdaulat Secara Politik (Menghadapi Badai Geopolitik)
Di tengah dunia yang terpolarisasi, pemikiran Soekarno tentang Gerakan Non-Blok dan Konferensi Asia-Afrika 1955 mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak boleh menjadi sekadar "pion" di papan catur negara adidaya.
Kita harus mengembalikan marwah politik luar negeri yang Bebas-Aktif. Bebas bukan berarti netral secara pasif, tetapi aktif memperjuangkan perdamaian dunia dan menolak segala bentuk neo-kolonialisme. Kepentingan nasional harus menjadi panglima dalam setiap perundingan internasional.
2. Berdikari Secara Ekonomi (Menghadapi Krisis Global)
Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri) bukanlah konsep isolasi, melainkan kemandirian. Di era di mana rantai pasok global sangat rentan dan eksploitasi sumber daya alam masih membayangi, cita-cita keadilan sosial Bung Karno harus dieksekusi. Hilirisasi industri yang saat ini digaungkan
harus dikawal agar nilainya benar-benar jatuh ke tangan rakyat, bukan ke segelintir oligarki.
Pembangunan ekonomi tidak boleh sekadar mengejar angka pertumbuhan, tetapi harus berorientasi pada pemerataan, memastikan kaum "Marhaen" di era modern (pekerja informal, buruh, petani,
kaum miskin kota) mendapatkan hak hidup yang layak.
3. Berkepribadian Secara Kebudayaan (Menghadapi Krisis Hukum dan Etika)
Soekarno selalu menekankan pentingnya Nation and Character Building. Badai penegakan hukum mulai dari tebang pilih, korupsi yang merajalela, hingga etika pejabat publik yang terkikis adalah tanda runtuhnya karakter bangsa.
Kita perlu kembali pada nilai kebatinan Jawa dan integritas Bali yang diwariskan Soekarno: bahwa kekuasaan adalah amanah spiritual, bukan alat memperkaya diri. Penegak hukum dan pemimpin harus memiliki rasa "malu" (budaya Nusantara) dan "dedikasi" (patriotisme) kepada Republik.
Kesimpulan: Warisi Apinya, Bukan Abunya
Memperingati kelahiran Bung Karno bukanlah untuk memuja masa lalu, melainkan untuk merebut kembali masa depan. "Warisi apinya, jangan abunya. Kalau engkau mewarisi abunya, engkau hanya akan puas dengan Indonesia yang sekarang ini. Tetapi kalau engkau mewarisi apinya, engkau akan bergerak terus, membangun, dan membangun!"
Api Bung Karno adalah api perlawanan terhadap ketidakadilan. Api kemandirian. Api kebanggaan sebagai bangsa yang besar. Di usianya yang menginjak perempat abad ke-21 ini, Republik Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya pandai mengutip kata-kata Soekarno, tetapi berani menempatkan Pancasila dan Trisakti dalam tindakan nyata.
Mari kita jadikan peringatan hari lahir Putra Sang Fajar ini sebagai momentum konsolidasi batin bangsa. Badai ekonomi, geopolitik, dan krisis hukum hanya bisa dilewati jika kita kembali pada spirit 1 Juni: Bersatu, bergotong-royong, dan meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa fajar yang baru akan selalu menyingsing bagi mereka yang terus berjuang.
Merdeka!
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ini-pidato-lengkap-bung-karno153.jpg)