Neneng Tertangkap
Kisah Perjalanan Beresiko Mantan TKI Lewat Pelabuhan Tikus
Tentunya dia harus melewati lautan luas yang bisa membahayakan dirinya. Jika dia menaiki kapal kecil seperti speedboat atau pompong
Editor:
Dewi Agustina

Laporan Wartawan Tribun Batam, Candra P. Pusponegoro
TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Drama kepulangan Neneng Sri Wahyuni ke tanah air Selasa (12/6/2012) cukup luar biasa. Neneng masuk ke wilayah Batam Kepulauan Riau tidak melalui pelabuhan resmi Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI). Kepulangan yang tidak wajar ini menjadi cerita menarik di kalangan masyarakat.
Melalui pernyataan penasehat hukumnya, Hotman Paris Hutapea, Neneng pulang ke Batam melalui ‘pelabuhan tikus’ bersama rombongan Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Perjalanan yang ditempuh Neneng dari tempat pelariannya Malaysia menuju ke Batam tentulah tidak aman dan senyaman para penumpang resmi kapal ferry.
Tentunya dia harus melewati lautan luas yang bisa membahayakan dirinya. Jika dia menaiki kapal kecil seperti speedboat atau pompong (sejenis kapal nelayan untuk rute pendek), maka bahaya di lautan cukup menantang. Alasannya, perairan luas antara Batam Singapura Malaysia kadang-kadang tidak selalu bersahabat.
Pengalaman dramatis ini dituturkan HNL, mantan TKI Indonesia asal Nusa Tenggara Timur. HNL merupakan salah satu TKI dari sekian ribu TKI lainnya yang pernah menikmati perjalanan gelap ke Malaysia tanpa bekal dokumen perjalanan resmi. Baik paspor, visa kerja, asuransi, atau dokumen pendukung lainnya.
Kepada Tribun Batam (Tribun Network), Minggu (17/5/2012), HNL mengisahkan perjalanannya saat hendak berangkat ke Malaysia tahun 1996 silam. Kala itu, HNL akan berangkat ke Malaysia untuk bekerja tanpa dokumen resmi yang menyertainya. Kisah dramatisnya masih terkenang dan melekat dalam ingatannya.
Dia berangkat menaiki speedboat dari pantai Tanjung Uma Batam. Menurut HNL, saat itu, rombongan sekapalnya berjumlah 20 orang. Ditambah dengan 2 orang tekong dari Batam. Mereka berangkat pada malam hari pukul 00.00 WIB. Setiap penumpang dikenakan uang muka (DP) Rp 300 ribu untuk membeli bahan bakar speedboat.
"Tahun 1996 lalu saya berangkat ilegal ke Malaysia naik speedboat. Setiap penumpang harus membayar uang muka Rp 300 ribu. Perjalanan kami ini sudah diatur oleh tekong darat dan tekong laut. Total biaya satu orangnya sebesar 600 ringgit Malaysia," ujar HNL menceritakan pengalamannya, Minggu (17/6/2012).
Setelah perjalanan 1 jam di atas kapal, tiba-tiba ombak di tengah lautan bergulung-gulung dan angin sangat kecang. Oleh sebab tekong tidak berani, akhirnya kapal berputar haluan dan kembali ke Batam. Kemudian HNL dan rombongan memutuskan untuk menunda perjalanannya menuju ke Malaysia.
"Kapal kami saat itu nyaris dihantam ombak setinggi 3 meter. Anginnya sangat kuat dan untungnya tekong cepat memutar arah. Alhamdulillah Tuhan masih menyelamatkan kami semua," ujar HNL sembari mengusap dahinya dengan telapak kanannya.
Beberapa bulan kemudian, HNL memutuskan untuk berangkat lagi. Namun lokasi pemberangkatan dan rombongannya berbeda dari sebelumnya. Dia berangkat dari Pantai Nongsa Batam dengan kapal dua mesin. Rombongan kapal yang berangkat sebanyak 30 orang, ditambah tekong 2 orang.
Dia menyebutkan, dari Nongsa menuju ke Pantai Mersing Malaysia ditempuh selama 1 jam. Kapal yang dinaikinya tanpa penerangan sedikitpun. Hanya bintang gemintang di langit terlihat indah dari dalam kapal. Dari arah sekitarnya, tidak terlihat sedikitpun lampu atau kapal-kapal yang melintas di perairan yang dilewatinya.
Sewaktu tiba di dekat bibir pantai Mersing dini hari, lanjut HNL, ke-30 rombongan diminta tekong turun ke laut. Waktu itu ketinggian air mencapai leher orang dewasa. Tas dan barang bawaan diletakkan di atas kepala. Setelah semua turun, tekong kapal langsung bergegas pergi meninggalkan mereka dalam kegelapan malam.
"Daratan masih agak jauh, kami semua diminta turun di laut. Rombongan berendam dalam air laut. Gelap gulita saat itu, hanya suara angin yang menelisik ke telinga. Cukup mengerikan kalau diingat pengalaman itu. Setibanya di daratan, kami dijemput sama tekong darat dan dipandu memasuki hutan," ungkap HNL.