Nilai Perdagangan Unggas Capai Rp 160 Triliun
Bisnis unggas ternyata menggiurkan. Buktinya, nilai transaksi perdagangan komoditas tersebut, baik berbentuk daging
TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Bisnis unggas ternyata menggiurkan. Buktinya, nilai transaksi perdagangan komoditas tersebut, baik berbentuk daging, telur, dan pakan, selama tahun 2012, mencapai sekitar Rp 160 triliun.
Menurut Sekretaris DPP Pengusaha Peternak Unggas Indonesia, Aswin Pulungan, nilai transaksi perdagangan unggas pada 2012 melampaui realisasi yang berlangsung selama 2011. "Pada 2011, nilai transaksi perdagangan unggas sekitar Rp 140 triliun," kata Aswin ketika dihubungi Tribun, Senin (31/12/2012).
Aswin mengatakan konsumsi unggas, baik dalam bentuk daging, maupun telur, mengalami kenaikan konsumsi, di antara berbagai daerah di Indonesia, Jabar menjadi wilayah yang tertinggi tingkat konsumsi unggasnya. "Sekitar 40 persen konsumsi unggas berada di Jabar. Lalu, Jatim, Jakarta, dan daerah lainnya," kata Aswin.
Aswin memperkirakan, transaksi perdagangan unggas pada tahun 2013 berpotensi lebih besar daripada realisasi selama 2012. Salah satu yang menjadi indikator kenaikan tersebut adalah naiknya harga jual daging sapi, sehingga membuat publik beralih pada unggas.
Meski demikian, tingkat konsumsi daging dan telur ayam di Indonesia, masih lebih rendah daripada Malaysia, yaitu rata-rata 3 kilogram per bulan. Selain itu, nilai transaksi unggas selama 2012 belum menyejahterakan masyarakat, karena sekitar 70 persen pasar unggas di tanah air dikuasai investor asing. "Sisanya, sekitar 30 persen, peternak lokal," ujarnya.
Masih dominannya investor asing, kata Aswin, membuat ruang gerak peternak lokal terbatas. Kondisi ini terjadi pascaterbitnya Undang Undang 18/2009 mengenai Peternakan dan Kesehatan Hewan. UU tersebut memberikan PMA keleluasaan untuk berkembang.
Mengenai flu burung, Aswin menuturkan, hal itu tidak terlalu berpengaruh pada produksi ayam karena yang saat ini terjangkit yaitu bebek. (Tribun JAbar/Erwin)
Baca juga: