Pemerintah Jepang Targetkan 2027 Pemakai Uang Elektronik Sedikitnya Mencapai 40%

Hari ini NTT Docomo memperkenalkan pelayanan pembayaran pakai kode QR (quick response) sehingga nantinya tak ada lagi pembayaran tunai

Pemerintah Jepang Targetkan 2027 Pemakai Uang Elektronik Sedikitnya Mencapai 40%
Richard Susilo
Penggunaan QR-Code (kode quick response) untuk pembayaran belanja online. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pemerintah sedang aktif mengkampanyekan penggunaan uang elektronik sejak beberapa tahun terakhir ini dan tahun 2027 ditargetkan 40% masyarakat Jepang sudah menggunakan uang elektronik dan pembayaran tunai 60%.

"Hari ini NTT Docomo memperkenalkan pelayanan pembayaran pakai kode QR (quick response) sehingga nantinya tak ada lagi pembayaran tunai saat belanja di berbagai tempat," papar eksekutif NTT Docomo Yoshiaki Maeda hari Rabu ini (17/1/2018).

Saat ini menurutnya sudah 15 juta konsumennya yang siap menggunakan aplikasi QR Code tersebut yang akan dimulai April mendatang.

Target merchant yang akan menggunakan (dapat menerima pembayaran) QR Code ada 19 ribu toko ritel dan tempat makan di seluruh negeri termasuk konbini Lawson, departemen store Takashimaya dan nantinya akan meluas menjadi sedikitnya 100.000 toko dapat menggunakan pembayaran aplikasi QR Code NTT Docomo tersebut.

"Tentu saja pemilik ponsel NTT Docomo harus donload dulu aplikasinya gratis dan dari pemasukan biaya komunikasi tersebut perusahaan telekomunikasi raksasa Jepang ini diperkirakan akan mendapatkan penghasilan miliaran yen per tahunnya."

Kode QR dikembangkan 24 tahun yang lalu yaitu pada tahun 1994 dikembangkan oleh komponen otomotif terkemuka, yang saat ini bernama Denso Wave yang  dikembangkan untuk mengelola persediaan komponen di pabrik.

Dari kecepatan   reaksi yang bisa dibaca dengan kecepatan tinggi, dilakukanlah inisial "quick response" dan diberi nama QR code. Selain kecepatan   reaksi, juga ditandai dengan kapasitas data recordable yang besar.

Dengan pola  mosaik yang disusun dalam kotak kecil, kita  bisa mendaftarkan lebih dari 7000 huruf informasi termasuk huruf, angka, dan kanji.

Meskipun perusahaan memiliki hak paten, namun telah digunakan untuk berbagai tujuan di seluruh dunia karena dengan jelas menyatakan bahwa kebijakan tersebut tidak dilakukan sejak awal.

 Perusahaan grup distribusi "Aeon" mengenalkan sistem   bisa membayar smartphone pada restoran yang ada  di fasilitas komersial di kota Chiba.

Dengan sistem cashless (non tunai)  ini, dari sisi toko juga memiliki efek mengurangi beban menerima pesanan dan penanganan pembayaran.

Seorang wanita berusia tiga puluhan   bersama anaknya berkata, "Menurut saya lebih mudah pakai cashless karena kita dapat lebih banyak waktu menunggu bersama anak saat memesan daripada antri berdiri di depan loket pembayaran."

Saat ini cashless atau uang elektronik yang bisa dipakai di Jepang dengan menggunakan kartu Suica (JR), Pasmo (subways), Nanaco (7-eleven), Waon dan Rakuten Edy.

Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help