Aspek Ekonomi, Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian Jepang dalam Asian Entrepreneurship Award

Ada tiga aspek yang jadi perhatian AEA yaitu aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek sosial.

Aspek Ekonomi, Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian Jepang dalam Asian Entrepreneurship Award
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
DR Totok Hari Wibowo, Analis Kebijakan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia (kanan) dan Naufalino Fadel Hutomo, CEO Neurafarm (kiri) 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Penyelenggaraan event Asian Entrepreneurship Award (AEA) di Tokyo Jepang baru selesai dilakukan Jumat (2/11/2018).

Hingga penyelenggaraan AEA ke 7 ini belum ada peserta dari Indonesia yang berhasil menjadi juara kewiraswastaan di acara bergengsi Asia yang dimulai sejak 2012 itu.

"Pilihan banyak sebenarnya bagi para wiraswastawan Indonesia sejak awal kompetisi tahun 2012," kata DR Totok Hari Wibowo (54), Analis Kebijakan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia kepada Tribunnews.com, Jumat (2/11/2018).

Menurutnya ada tiga aspek yang jadi perhatian AEA yaitu aspek ekonomi, aspek lingkungan dan aspek sosial, yang kemudian masuk ke dalam bisnis yang disampaikan di AEA.

"Saya pernah membawa tim cukup hebat dari Unpad terdiri dari rektor, wakil rektor 4 dan kepala laboratoriumnya," tambahnya.

Idenya membawa bisnis pembuatan obat diabetes berbasis buah pala. Beberapa patent di dalamnya terlibat pula.

Baca: Naufalino Fadel Hutomo Ikut Kompetisi Asian Entrepreneurship Award di Jepang

"Tetapi juga kalah karena mungkin aspek sosialnya tidak tercover," kata DR Totok Hari Wibowo.

Sementara pemilihan Naufalino Fadel Hutomo yang juga belum beruntung kali ini, dari ide yang dikembangkan Fadel melihat adanya jalur yang baik kalau disiplin ilmu dikembangkan khususnya bidang pertanian perkebunan dan tanaman.

"Kita lihat perkebunan sawit merupakan perkebunan luas. Sawit bisa dikelola teknologi ini pakai data satelit identifikasi citra tertentu sehingga ketahuan mewakili karakter apa. Semua bisa diidentitas dari satelit," tambahnya.

AI (artificial intelligent) merupakan teknologi yang juga disupport data base.

"Apabila meneliti sawit banyak sekali waktu dibutuhkan dengan akses data ke depan termasuk sharing sehingga nantinya bisa punya potensi ekonomi yang hebat. Hal itu juga dilakukan Malaysia Thai Vietnam, terutama negara-negara di garis khatulistiwa. Bukan hanya kelapa sawit tetapi juga bisa meneliti dengan baik kelapa, karet, kopi, karet dan lainnya."

Sebagai Promotor Fadel, Totok berharap Indonesia bisa banyak belajar dari Jepang membawa masuk ilmu dan teknologi Jepang ke Indonesia untuk dikembangkan lebih lanjut sehingga bermanfaat bagi orang banyak.

"Untuk teknologi baru saya cenderung lebih nyaman nempel ke kegiatan menristek dikti karena menjanjijan sustainability keberlangsungan yang baik dibandingkan kementerian lain yang juga memiliki kegiatan ilmiah termasuk kementerian agama," kata DR Totok Hari Wibowo.

Totok mengharapkan Fadel yang baru pertama kali ke Jepang itu, juga bisa menjadi corong bukan hanya menceritakan mengenai Jepang saja, tapi bisa perbaiki apa yang ada di dalam Indonesia.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved