Pemilu 2014

Serangan Isu SARA ke Jokowi, Bakal Mentah dan Tak Berpengaruh

serangan dan isu berbau SARA, kepada calon presiden PDIP, Joko Widodo dinilai tidak akan mempengaruhi elektabilitasnya

Serangan Isu SARA ke Jokowi, Bakal Mentah dan Tak Berpengaruh
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Armida Alisjahbana berbincang dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat membuka Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di Balai Agung, Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (25/3/2014). Jokowi memaparkan beberapa program yang tengah dijalankan di hadapan tamu undangan. Dia menjelaskan mengenai pengelolaan limbah yang masih belum maksimal hingga Mass Rapid Transit (MRT). Warta Kota/angga bhagya nugraha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Serangan dan isu berbau penghinaan Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA), kepada calon presiden PDIP, Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi, dinilai tidak akan mempengaruhi elektabilitasnya.
Isu tersebut dianggap akan mentah dan berbalik ke penyerangnya. Sebab, masyarakat saat ini dinilai sudah paham dan mengerti bagaimana memilih pemimpin yang tepat bagi mereka.

Demikian diungkapkan Budiman, pengamat politik dan praktisi pemenangan pemilu dari Konsepindo dalam diskusi bertajuk 'Sosmed sebagai Sarana Kampanye dan Perang Wacana' di Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (29/3/2014).

"Sejauh yang menyerang dan melempar isu, orangnya masih itu-itu saja dan tidak meluas, saya kira tidak perlu dirisaukan," katanya.

Menurutnya munculnya sosial media seperti Facebook dan Twitter sebagai media kampanye di masa pemilu kali ini tak dapat dihindari akan menambah persoalan baru yaitu maraknya perang kata dan argumen yang berbau SARA.

Akun-akun di twitter dan Facebook, katanya, telah memunculkan sejumlah isu yang memojokkan bahkan merendahkan martabat seseorang.

Hal ini dimungkinkan karena penyerang melalui sosial media bisa membuat identitas yang tak jelas dan tak diketahui.

"Perang wacana di sosial media kadang mengarah pada penurunan martabat seseorang. Tujuannya, agar tidak disukai pemilih. Yang muncul di sosial media akhir-akhir ini sudah mengarah kepada isu SARA dan berbahaya," katanya.

Karenanya kata dia butuh kebesaran hati dan kedewasaan semua pihak.

Budiman menjelaskan pemanfaatan isu-isu negatif berupa perendahan martabat seseorang di sosial media bisa diantisipasi, terutama jika calon yang bersangkutan memang bersih dan bebas skandal. "Kalau begitu maka tidak menjadi masalah. Namun ketika isu negatif tidak ditemukan, kelompok tertentu menjadi frustrasi dan akhirnya melakukan serangan berbau SARA. Ini jadi tidak fair karena mempersoalkan keimanan, suku, agama dan ras seseorang dalam kaitan dengan Pileg atau pilpres," papar Budiman.

Ia mengatakan Indonesia sebagai bangsa majemuk dan berprinsip bhineka tunggal ika, diyakini tidak akan dapat terpengaruh dengan isu dan serangan berbau SARA. "Justru di sosmed, penyerang dengan isu SARA, pelan-pelan akan terpojok," katanya.(bum)

Editor: Johnson Simanjuntak
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved