Mewujudkan Generasi Emas Melalui Integrasi dan Sinergi untuk Masa Depan Anak Sehat dan Cerdas
Dengan sinergi ini, program Keluarga SIGAP tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga lebih kuat dan terintegrasi.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan sedang melakukan transformasi sistem kesehatan dengan fokus pada penguatan layanan primer, termasuk edukasi masyarakat mengenai imunisasi, perilaku hidup bersih, dan gizi. Untuk mendukung agenda ini, Program Keluarga SIGAP dikembangkan untuk mempromosikan tiga perilaku utama bagi keluarga dengan anak usia 0–24 bulan, yaitu: imunisasi rutin, lengkap dan tepat waktu; Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS); serta pemberian makanan bergizi.
Program ini telah hadir di Kabupaten Banjar (Kalimantan Selatan), Brebes (Jawa Tengah), dan Sukabumi (Jawa Barat), menjangkau 638 desa melalui pelatihan 6.239 kader, 4.737 kelas ibu baduta, hingga 83.298 kunjungan rumah. Hasilnya? Sebanyak 84.628 baduta telah dijangkau dan para orang tua pun semakin paham pentingnya imunisasi, kebiasaan hidup bersih, dan gizi seimbang. Namun, keberhasilan ini tidak boleh berhenti di sini saja. Keberlanjutan adalah kunci agar manfaatnya terus dirasakan oleh masyarakat.
Mengapa Perlu Dukungan Desa?
Untuk masyarakat, keberlanjutan program ini berarti bahwa anak-anak dapat tumbuh sehat, bebas stunting, dan siap meraih masa depan. Bagi pemerintah desa, ini adalah salah satu kesempatan untuk mewujudkan amanat Undang-Undang Desa: mengelola sumber daya dan anggaran demi pembangunan manusia. Dengan mengintegrasikan kegiatan Keluarga SIGAP ke dalam RPJMDes dan RKPDes, kita dapat memastikan program ini menjadi bagian dari perencanaan desa, bukan hanya sekadar proyek sementara.
Langkah Nyata: Lokakarya dan Forum Komitmen
Pada November 2025, sebanyak 638 desa mengikuti lokakarya pertama di tiga kabupaten untuk memahami manfaat Program Keluarga SIGAP dan pentingnya penganggaran melalui dana desa. Kini, langkah berikutnya adalah sebanyak 96 desa dari tiga kabupaten tersebut, yang memberikan komitmen keberlanjutan untuk mengikuti Lokakarya Kedua yaitu Forum Komitmen untuk menselarakan sinergi antar pemerintah kabupaten, desa dan dinas terkait yang digelar Desember 2025 hingga Januari 2026. Fokusnya adalah pada kolaborasi pendanaan antara APBDes dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik/BOK Puskesmas. Dengan sinergi ini, program Keluarga SIGAP tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga lebih kuat dan terintegrasi.
Dalam forum ini, para kepala desa, camat, Kaur Perencanaan, dan KTU Puskesmas duduk bersama untuk:
• Menyusun rencana kegiatan SIGAP dalam dokumen perencanaan desa.
• Memetakan sumber pendanaan: mana yang didukung desa, mana yang bisa dibiayai melalui DAK/BOK.
Baca juga: Siapkan Generasi Emas, Pemerintah Ajak Masyarakat Terapkan Gaya Hidup Sehat dengan Makan Ikan
Berbagi praktik baik dari desa dan Puskesmas yang sudah berhasil.
Nuwirman, Penasihat Advokasi Keluarga SIGAP, fasilitator utama kegiatan lokakarya, menegaskan "Keberlanjutan program harus berbasis kolaborasi. Desa dan Puskesmas perlu bersinergi agar upaya perubahan perilaku berjalan konsisten."
Ardi Prastowo, Team Leader Program Keluarga SIGAP, menyampaikan, “Kami mendorong desa untuk mengalokasikan APBDes, sekaligus memanfaatkan DAK/BOK Puskesmas. Ini bukan hanya soal pendanaan, tetapi komitmen bersama untuk menurunkan stunting dan membangun generasi sehat.”
Sappe MP Sirait, Analisis Kebijakan Ahli Madia pada Direktorat Fasilitasi Pemanfaatan Dana Desa, dari Kementerian Desa PDT sebagai salah satu narasumber pada lokakarya pertama, juga menyampaikan "Melalui lokakaya ini, kami berharap pemanfaatan Dana Desa untuk kesehatan dasar dapat dipahami dan diterapkan secara optimal. Komitmen kami adalah memastikan setiap desa memiliki akses layanan kesehatan yang lebih baik dan mendukung keberlanjutan program Keluarga SIGAP (Imunisasi, cuci tangan pakai sabun, nutrisi)."
Dr. Widya Wiri Utami, MPH, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar juga menegaskan, "Dampak dari program ini terlihat dari capaian pelaksanaan imunisasi, CTPS, dan pemberian nutrisi untuk baduta sebagai bagian dari percepatan penurunan stunting tahun 2025. Kami juga telah menyiapkan kebijakan strategis untuk tahun 2026 agar upaya ini semakin terintegrasi dan berkelanjutan demi mewujudkan generasi sehat di Kabupaten Banjar."
Emi Sri Hartati, SKM, Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Brebes juga menegaskan, ”Sebuah program, cita-cita, maupun tujuan tidak akan berhasil jika hanya diupayakan oleh Dinas Kesehatan Daerah saja. Diperlukan dukungan, kolaborasi dan sinergi dari para camat, kepala desa serta Puskesmas untuk mempercepat penurunan stunting pada tahun 2026. Kami berharap keberlanjutan program perubahan perilaku dapat terus berjalan demi mewujudkan Brebes lebih sehat sehingga bisa menjadikan Brebes Beres.”
H. Cucu Sumintardi, SKM, MKM, Kepala Bidang Upaya dan Pembiayaan Kesehatan, Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Sukabumi juga menegaskan, ”Keluarga SIGAP mendukung visi Kabupaten Sukabumi untuk menyiapkan generasi emas yang sehat. Kami melihat peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan dan kader, serta orang tua yang lebih aktif ke Posyandu berkat alat peraga dan sosialisasi tiga perilaku SIGAP. Keberlanjutan program ini membutuhkan komitmen bersama antara sektor kesehatan dan pemerintah desa agar praktik baik ini terus berjalan. ”
Keberlanjutan Keluarga SIGAP bukan hanya sekadar program, tetapi investasi untuk masa depan anak. Dengan dukungan pemerintah desa, dinas terkait, dan masyarakat, kita bisa memastikan setiap anak mendapatkan haknya: imunisasi lengkap, hidup bersih, dan gizi seimbang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/manfaat-Program-Keluarga-SIGAP-dan-pentingnya-dana-desa.jpg)