Kasus Campak Turun Lebih dari 2.000 Kasus dalam 13 Pekan, Kemenkes Minta Tetap Waspada
Penurunan kasus campak terjadi di berbagai provinsi yang sebelumnya mencatat angka tinggi.
Ringkasan Berita:
- Penurunan kasus campak mencapai lebih dari 90 persen, yang menunjukkan adanya dampak dari berbagai intervensi kesehatan masyarakat
- Sebagai bagian dari pengendalian, pemerintah terus mendorong pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI). Program ini menjadi salah satu strategi utama untuk memutus rantai penularan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tren kasus campak di Indonesia menunjukkan penurunan signifikan sepanjang awal tahun 2026. Namun, pemerintah menegaskan kondisi ini belum sepenuhnya aman.
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan, Andi Saguni, memaparkan bahwa penurunan terjadi secara konsisten sejak awal tahun hingga pekan ke-13.
“Jika kita lihat pada minggu pertama jumlah kasus campak 2220 dan kita bandingkan pada minggu ke-13 itu sudah tinggal 195 kasus campak,” ujar Andi dalam konferensi pers secara daring, Jumat (10/4/2026).
Baca juga: Bukan Sekadar Ruam, Campak Bisa ‘Hapus’ Kekebalan Tubuh Anak, Ini Penjelasannya
Data tersebut menunjukkan penurunan yang sangat signifikan dalam waktu relatif singkat. Dari 2.220 kasus pada minggu pertama, angka tersebut turun menjadi 195 kasus pada minggu ke-13.
Penurunan ini berarti lebih dari 2.000 kasus berhasil ditekan dalam kurun waktu sekitar tiga bulan.
Jika dilihat secara persentase, penurunan mencapai lebih dari 90 persen, yang menunjukkan adanya dampak dari berbagai intervensi kesehatan masyarakat.
Namun, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa penurunan ini tidak boleh membuat masyarakat maupun pemerintah lengah.
Penurunan Terjadi di Banyak Wilayah, Tapi Belum Merata
Penurunan kasus terjadi di berbagai provinsi yang sebelumnya mencatat angka tinggi. Wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Sumatera Selatan menunjukkan tren penurunan dari akhir 2025 ke awal 2026.
Hal yang sama juga terlihat di wilayah perkotaan seperti DKI Jakarta, serta provinsi padat penduduk seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Di awal tahun 2026, Jawa Barat sempat mencatat angka kasus yang tinggi, namun hingga minggu ke-13 sudah mengalami penurunan.
Meski demikian, masih ditemukan kasus di wilayah tersebut.
“Sudah turun tetapi kita harus waspada,” kata Andi.
Kementerian Kesehatan mencatat daerah riwayat kasus campak tertinggi sepanjang 2025 hingga 2026.
Wilayah-wilayah ini menjadi fokus pengawasan karena masih memiliki potensi penularan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-penyakit-campak-pada-anak.jpg)