Breaking News:

Peduli Lingkungan, Walhi Ajak Pengendara Motor Naik Kelas

Penggunaan bensin Premium dengan RON 88, menurut Dwi, dapat menyebabkan pencemaran udara.

TRIBUN JABAR/ZELPHI
Suasana antrian kendaraan roda dua dan kendaraan angkutan umum untuk mengisi bahan bakar Pertalite dengan harga diskon di SPBU 34-40510 Jalan HMS Mintareja SH, Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (11/01/2021). Pihak Pertamina menurunkan harga jual Pertalite sebesar Rp. 1.200 per liter di beberapa SPBU di sejumlah kota di Jawa, Madura dan Bali. Dengan harga jual seharga Premium, Pihak Pertamina mengajak warga pengguna kendaraan beralih ke bahan bakar lebih baik, rendah emisi sehingga tercipta pengurangan polusi udara dan lingkungan yang sehat. Program harga hemat ini sebagai Program Langit Biru dari Pertamina untuk mengurangi kadar polusi dari emisi gas buang kendaraan. (Tribun Jabar/Zelphi) 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Manajer Kampanye Energi dan Perkotaan Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Dwi Sawung menilai masyarakat akan menerima jika pemerintah menghapus bahan bakar minyak (BBM) dengan nilai oktan atau Research Octane Number (RON) rendah seperti bensin premium.

Penggunaan bensin Premium dengan RON 88, menurut Dwi, dapat menyebabkan pencemaran udara.
Dwi menilai masyarakat akan menerima jika alasannya karena pencemaran udara.

Baca juga: Pengamat: Program Langit Biru Berhasil Edukasi Masyarakat Pakai BBM Ramah Lingkungan

"Saya kira kalau alasannya polusi udara masyarakat memahami," ujar Dwi kepada Tribunnews.com.

Menurut Dwi, standar penggunaan bahan bakar oleh masyarakat harus meningkat dari oktan rendah ke yang lebih tinggi.

Baca juga: Selain Mesin Jadi Bersih, Ini Keunggulan Lain Kendaraan Diisi Pertamax

Dwi mengatakan langkah ini juga harus sejalan dengan standar mesin kendaraan yang dimiliki oleh masyarakat.

"Ya ada pengurangan emisi dari penggantian bahan bakar ke standar yang lebih baik. Ini juga harus sejalan dengan standar mesin kendaraan dan uji emisinya," ucap Dwi.

Menurutnya, Indonesia sudah seharusnya keluar dari penggunaan BBM dengan oktan rendah. Langkah ini, menurutnya, perlu dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Sejauh ini, hanya Indonesia yang masih menggunakan BBM dengan RON rendah di kawasan Asia Tenggara.

"Di Asia Tenggara tampaknya hanya Indonesia yang masih pakai RON 88. Harusnya malah sudah lama," ujar Dwi.

Penggunaan bensin Premium dengan RON 88 dinilai dapat menyebabkan pencemaran udara yang berdampak pada masalah kesehatan.

Penyakit yang dapat ditimbulkan oleh polusi udara, diantaranya adalah infeksi saluran pernapasan (ISPA), pneunomia, bronchopneumonia, kanker, hingga penyakit kardiovaskular.

Selain bahaya bagi kesehatan, efek dari BBM dengan RON rendah adalah menimbulkan gas rumah kaca. Gas rumah kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca sehingga meningkatkan suhu global.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved