Breaking News:

Opsi IPO Dinilai Mampu Percepat Pertumbuhan Perusahaan Fintech

AFTECH melihat pertumbuhan industri fintech diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan percepatan digitalisasi

EMERGING EUROPE
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Bambang Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) melihat pertumbuhan industri fintech diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan percepatan digitalisasi, serta literasi keuangan masyarakat.

Wakil Sekretaris Jenderal AFTECH Dickie Widjaja mengatakan, performa dari perusahaan atau penyelenggara fintech juga diekspektasi akan terus meningkat, meski tidak lepas dari berbagai tantangan termasuk permodalan perusahaan.

Baca juga: Pesantren Sangat Berpotensi Kembangkan Fintech

Terkait dengan hal tersebut, Survei Anggota Tahunan AFTECH 2019/2020 menunjukkan, bahwa sekitar 28 persen perusahaan fintech mendapatkan permodalannya dari ekuitas swasta, 23 persen dari dana sendiri, 19 persen dari angel investor, dan 13 persen dari modal ventura (venture capital).

Dickie Widjaja melanjutkan, pemanfaatan bursa khususnya melalui Initial Public Offering (IPO) sebagai salah satu opsi untuk mendukung permodalan penyelenggara fintech, sangat umum dilakukan di luar negeri.

Baca juga: Bekerja di Perusahaan Fintech, Lala Karmela Ungkap Adanya Manfaat Penunjang Bagi Kehidupannya

Namun, saat ini percepatan pertumbuhan perusahaan Fintech di Indonesia melalui IPO belum banyak digunakan.

“Untuk perusahaan yang berminat, penting kiranya untuk mengetahui seluk-beluk, termasuk potensi, penilaian, dan tantangan yang akan dihadapi sepanjang proses ini,” jelas Dickie Widjaja dalam keterangannya, (2/4/2021).

Sementara itu, Komisaris PT Bursa Efek Indonesia, Pandu Patria Sjahrir mengatakan, secara umum perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia termasuk fintech, sudah cukup mature untuk bisa go public.

Meskipun demikian, ia menyadari bahwa pemahaman investor publik di Indonesia mengenai perusahaan teknologi masih perlu ditingkatkan.

“Terkait dengan cara menilai perusahaan, misalnya, publik cenderung melihat berapa price to earning (PE), padahal terdapat cara-cara lain dalam melakukan penilaian. Sedangkan untuk regulasinya, saat ini BEI terus berdiskusi dengan OJK mengenai beberapa hal,” jelas Pandu.

“Tapi satu hal yang ingin saya ingatkan, fintech di Indonesia akan terus mengalami pertumbuhan lebih banyak lagi, sehingga akan berperan sangat besar terutama dari sisi inklusi keuangan dan ini bisa menjadi masa depan Indonesia,” pungkasnya.

Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved