Lira Turki Anjlok, Citibank Hingga Vodafone Group Mulai Terdampak Efek Hiperinflasi

Penurunan tersebut lantas memicu kekhawatiran bagi para pebisnis asing Turki, hingga mereka mulai menerapkan kebijakan akuntansi hiperinflasi

Adem ALTAN / AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Kebijakan pemangkasan suku bunga yang dilakukan presiden Recep Tayyip Erdoğan untuk menahan laju inflasi, tampaknya berbalik menyerang ekonomi Turki hingga membuat mata uang lira gagal melawan arus global di tengah melesatnya harga - harga produk impor. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, ANKARA – Munculnya fenomena hiperinflasi atau kenaikan harga komoditas secara cepat, tak hanya memberikan pukulan bagi industri rumah tangga namun juga telah menekan para perusahaan multinasional yang beroperasi di negara tersebut.

Kebijakan pemangkasan suku bunga yang dilakukan presiden Recep Tayyip Erdoğan untuk menahan laju inflasi, tampaknya berbalik menyerang ekonomi Turki hingga membuat mata uang lira gagal melawan arus global di tengah melesatnya harga - harga produk impor.

Alasan ini yang membuat nilai lira makin anjlok ke level terendahnya, dimana pada perdagangan Sabtu (6/8/2022) nilai lira melesat turun di level 17,91 melawan dolar, dari sebelumnya lira dipatok dikisaran 18,4 terhadap dolar.

Baca juga: Tingkatkan Stok Energi, Turki Borong Minyak dan Gas dari Iran

Penurunan tersebut lantas memicu kekhawatiran bagi para pebisnis asing Turki, hingga mereka mulai menerapkan kebijakan akuntansi hiperinflasi untuk menghindari adanya potensi pembengkakan kerugian.

Mengutip dari Bloomberg akuntansi hiperinflasi merupakan cara - cara yang dapat digunakan para pemilik bisnis untuk memperhitungkan dampak depresiasi atau penurunan mata uang lokal.

Seperti jasa keuangan Citibank dan Banco Bilbao Vizcaya Argentaria SA serta perusahaan telekomunikasi Vodafone Group yang belakangan mulai menerapkan strategi akuntansi hiperinflasi, dengan mengalihkan semua akuntansinya dari lira Turki ke dolar AS.

Menyusul yang lainnya pada hari Kamis (4/8/2022), ING Groep NV menyatakan bahwa perusahaannya di Turki mulai menerapkan apa yang dikenal sebagai aturan IAS 29.

Tak hanya itu, Konsultan KPMG yang bertempat di Istanbul juga turut mengubah sistem keuangannya karena terdampak lonjakan inflasi Turki

Langkah ini diambil para pebisnis asing Turki demi mengantisipasi adanya kerugian yang berlanjut.

Mengingat saat ini laju pertumbuhan harga di Turki telah mencapai dua digit, Institut Statistik Turki mencatat inflasi harga konsumen Turki di sepanjang bulan Juli telah melesat naik menjadi 79,6 persen.

Kenaikan ini didorong oleh adanya peningkatan biaya transportasi yang mencapai 119,11 persen, serta lonjakan biaya makanan dan minuman non alkohol yang naik 94,65 persen.

Baca juga: Turki Terancam Krisis Energi, Deutsche Bank Beri Suntikan Dana 925 Juta Euro

Hal inilah yang membuat inflasi di Turki jadi yang tertinggi di antara pasar negara berkembang dan ekonomi maju di kawasan Eropa.

Bloomberg Economics memperkirakan inflasi tahunan akan terus naik hingga mencapai 91 persen pada kuartal ketiga, meski begitu para pejabat Turki optimis bahwa inflasi di negaranya akan segera berbalik dan bergerak lebih lambat menjadi 69 persen pada akhir 2022.

Pernyataan ini dilontarkan setelah bank sentral Turki merilis data proyeksi inflasi tahunan pada pekan lalu, dimana laju inflasi berada dalam zona aman menuju 60,4 persen pada akhir tahun.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved