Hunian Berbasis TOD Dinilai Dapat Atasi Persoalan Kemacetan Jakarta

Hunian berbasis transit oriented development (TOD) dinilai dapat mendukung aktivitas pekerja dan mengatasi kemacetan di Jakarta.

Istimewa
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Seno Tri Sulistiyono

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hunian berbasis transit oriented development (TOD) dinilai dapat mendukung aktivitas pekerja dan mengatasi kemacetan di Jakarta.

Pengamat properti Ali Tranghanda mengatakan, jika kota semakin besar maka semua penduduk ke pinggir wilayah penyangga.

"Warga penyangga ke Jakarta harus ada transportasi apakah MRT, LRT ataupun kereta api. Tapi ketika masuk ke Jakarta dia harus terkonek dengan simpul-simpul TOD yang lebih lengkap," kata Ali yang ditulis Senin (19/9/2022).

Dari sisi pemanfaatan lahan, Ali menyebut TOD dianggap sebagai solusi untuk penataan perkotaan karena mengoptimalkan fungsi lahan yang kian terbatas dan mahal, dengan basis transportasi publik di kawasannya.

Baca juga: Garap Pasar Kawasan Timur, SMM Kembangkan Hunian Kelas Atas

Selain itu, TOD juga dianggap sebagai solusi dalam rangka mengatasi masalah kemacetan yang kerap melanda kota-kota besar termasuk Jakarta.

Dengan TOD, para pekerja dan masyarakat secara umum, akan lebih mudah mengakses moda transportasi umum dari hunian tempat tinggalnya.

Dengan begitu, masyarakat akan memilih menggunakan moda transportasi umum ketimbang membawa kendaraan sendiri yang menyebabkan kemacetan.

"TOD yang sebenarnya adalah konsep pengembangan suatu wilayah yang berorientasi transit transportasi yang lebih mengedepankan perpindahan antarmoda transportasi dengan berjalan kaki atau upaya yang tidak menggunakan kendaraan bermotor," jelas pengamat transportasi publik sekaligus Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI, Djoko Setijowarno.

Melihat hal itu, Perum Perumnas semakin serius menerapkan proyek hunian berkonsep TOD.

Direktur Utama Perum Perumnas Budi Saddewa Soediro mengatakan, berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2020 yang dilaksanakan BPS pada 2021, angka backlog perumahan di Indonesia mencapai 12,75 juta.

"Cukup tingginya angka kesenjangan antara ketersediaan dan kebutuhan (backlog) rumah khususnya di kota-kota besar, menjadi perhatian kami bersama pada sektor properti Indonesia," kata Budi.

Dalam mengatasi permasalahan ini, Budi mengatakan, Perumnas sebagai BUMN telah menggandeng banyak kerja sama, khususnya dalam penyediaan rumah di kota-kota besar.

Salah satunya dengan PT KAI dalam penyediaan hunian berkonsep TOD yang langsung nempel dengan stasiun KRL di beberapa wilayah Jakarta dan pinggiran Jakarta.

"Hunian dengan konsep seperti ini, tidak hanya akan membantu permasalahan backlog yang ada, melainkan akan menengah kotakan hunian. Artinya, masyarakat berkesempatan memiliki hunian yang terjangkau yang berada di tiga lokasi di kota besar Jakarta dan sekitarnya," tutur Budi.

Ketiga lokasi tersebut yakni Samesta Mahata Serpong di Stasiun Rawa Buntu Tangerang Selatan, Samesta Mahata Margonda di Stasiun Pondok Cina Depok, dan Samesta Mahata Tanjung Barat di Stasiun Tanjung Barat Jakarta.

Rencananya jumlah unit yang dibangun Perumnas di Samesta Mahata Serpong sebanyak 1.816 unit, Samesta Mahata Tanjung Barat sebanyak 1.216 unit dan Samesta Mahata Margonda sebanyak 940 unit yang mana telah dilaksanakan topping off.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved