Jumat Pagi Rupiah Menguat ke Level Rp15.593 per Dolar AS

Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp15.593 pada Jumat pagi pukul 09.58 WIB

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Hendra Gunawan
Tribunnews/JEPRIMA
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Masagung Money Changer, Jakarta Pusat. Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp15.593 pada Jumat pagi pukul 09.58 WIB (9/12/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp15.593 pada Jumat pagi pukul 09.58 WIB (9/12/2022).

Sebelumnya pada Kamis sore (8/12/2022), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp15.620

Jika dilihat lebih detail, rupiah mengalami penguatan 27 poin.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Kembali Melemah, Tembus Level Rp15.500 per Dolar AS

Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi sebelumnya mengatakan, fluktuasi rupiah masih akan terjadi dan berpotensi cenderung melemah pada penutupan sore nanti.

Menurutnya, nilai tukar mata uang Garuda akan ditutup di rentang Rp15.600 hingga Rp15.670 per dolar AS.

"Sedangkan untuk perdagangan besok (hari ini) mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp15.600 hingga Rp15.670," papar Ibrahim dalam analisanya, (8/12/2022).

Sebelumnya pada kemarin, nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp15.620

Jika dicermati lebih detail, nilai tukar mata uang Garuda menguat 16 poin. Dimana pada penutupan Kamis (8/12) rupiah di level Rp15.636

Ibrahim mengatakan, fluktuasi rupiah utamanya masih disebabkan sentimen internal dan juga eksternal.

Untuk faktor eksternal, nilai tukar rupiah terdorong sentimen indeks dolar AS yang mengalami penurunan karena investor menimbang prospek kebijakan Federal Reserve di tengah kekhawatiran yang membara bahwa suku bunga tinggi dapat memicu resesi.

Baca juga: Rupiah Digital Siap Meluncur, Yuk Ketahui 3 Perbedaannya dengan e-Wallet!

"Sementara investor telah mengantisipasi Fed akan segera memperlambat laju pengetatannya, data ketenagakerjaan, jasa dan pabrik AS yang optimis baru-baru ini telah menambah ketidakpastian investor atas prospek kebijakan," ucap Ibrahim.

Untuk faktor internal, fliktuasi rupiah terdorong sentimen Indonesia yang masih punya modal untuk bisa membuat ekonomi tumbuh positif tahun depan. Kendati ketidakpastian global tahun depan menjadi faktor penghambat, yakni resesi.

Kunci agar Indonesia dapat menghadapi gejolak global yakni dengan menguatkan sinergi dan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Kemudian gejolak global ini bisa disikapi dengan optimisme tetapi tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi di masa datang.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved