Sabtu, 30 Agustus 2025

Menilik Desa Girilayu di Lereng Lawu, Kekayaan Motif Batik yang Gigih Lestari

Berangkat dari motif khas Girilayu dengan motif Tugu Tri Dharma, motif modern senantiasa terbarukan berkat inovasi generasi pengrajin batik

|
Tribunnews.com/Chrysnha Pradipha
BATIK GIRILAYU - Pengrajin batik tulis tengah melakukan proses pengerjaan produksi di rumah batik Giri Wastra Pura di Desa Girilayu, Matesih, Karanganyar 

"Motif batik klasik selalu dibuat di wilayah Girilayu, tetap untuk keperluan istana, para pejabat, dan upacara adat terutama pernikahan. Tahun 2016 muncul pengembangan motif batik dengan ciri khas Girilayu, salah satunya adalah motif Mbok Semok," papar Desy diwawancarai pada Jumat (18/4/2025).

Lanjut dia, motif tersebut diisi dengan stilasi perempuan pembatik, stilasi canting yang disusun menyerupai motif Parang, dikomposisikan dengan pakem motif Sido, dan stilasi Tugu Tri Dharma.

Unsur ideologi dan tradisi melebur secara estetik dalam motif Mbok Semok.

Yakni merangkai kisah cara bersosialisasi perempuan pembatik dalam peran domestik dan kultural.

"Stilasi perempuan pemnatik dalam motif Mbok Semok adalah daya tarik dari keseluruhan ragam huas dan isian motif yang ditampilkan, di samping stilasi canting dan Tugu Tri Dharma. Visualisasi yang dimunculkan sebagai pertanda eksistensi dan kekuatan untuk menjaga tradisi dan regenerasi batik di Girilayu," paparnya.

POLA BATIK - Partinah membuat pola motif batik produksi Giri Wastra Pura
POLA BATIK - Partinah membuat pola motif batik produksi Giri Wastra Pura (Tribunnews.com/Chrysnha Pradipha)

Dalam penamaannya, terang Desy,  motif Mbok Semok dikonotasikan sebagai image perempuan yang menarik. Semok berasal dari bahasa Jawa yang berarti tubuh padat dan subur.

Perihal simbolisasi, Mbok Semok adalaah representasi Prajurit Estri (perempuan) Mangkunegaran dalam versi baru sebagai pejuang tradisi membatik.

Program Desa

Sebuah badan usaha milik desa tersebut terlibat menjadi motor penggerak bagi perempuan dan pemuda lokal untuk mandiri, melalui lembaran batik tulis yang sarat makna.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Girilayu lahir pada tahun 2017, dengan visi besar memberdayakan masyarakat dan mendorong ekonomi desa agar tak sekadar berjalan, tapi melesat.

“BUMDes ini kami bentuk bukan cuma untuk menjalankan usaha, tapi untuk membawa manfaat langsung bagi warga,” ujar Kepala Desa Girilayu, Slamet, dihubungi terpisah. 

Dari unit simpan pinjam hingga pengelolaan air dan jasa, BUMDes Girilayu terus bertumbuh, namun sektor batik tetap menjadi nadi utamanya, bukan hanya sebagai produk unggulan, melainkan juga sebagai warisan yang dirawat dan dibagikan.

Saat ini, sebanyak 12 perajin batik aktif bekerja sama di bawah naungan BUMDes, tergabung dalam paguyuban pembatik bernama Giri Arum.

Mereka bukan sekadar pengrajin, tapi pelaku sejarah yang meneruskan tradisi batik tulis yang telah hidup di Girilayu sejak zaman Mangkunegaran.

Pendataan para pengrajin dilakukan secara terbuka melalui sistem pendaftaran, lalu dilanjutkan dengan pembinaan.

Tak berhenti pada produksi, BUMDes juga mengembangkan eduwisata batik, membuka ruang belajar bagi wisatawan yang ingin mengenal proses batik tulis dari dekat.

Halaman
123
Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan