Sabtu, 16 Mei 2026

Gara-gara Defisit, Negara Ini Selalu Tunda Perjanjian Dagang dengan Indonesia 

Alasan negara tersebut menunda perjanjian dagang karena khawatir negaranya semakin defisit dalam neraca dagangnya dengan Indonesia. 

Tayang:
Tribunnews/Lita Febriani
PERJANJIAN DAGANG - Menteri Perdagangan Budi Santoso di acara Peringatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) di Jakarta, Kamis (3/7/2025). Mendag menyebut ada negara yang menunda membuat perjanjian dagang dengan Indonesia karena khawatir negaranya semakin defisit dagang dengan RI. 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan ada satu negara mitra dagang Indonesia yang selalu menunda membuat perjanjian dagang dengan Indonesia.

Alasan negara tersebut menunda perjanjian dagang karena khawatir negaranya semakin defisit dalam neraca dagangnya dengan Indonesia. 

"Kami mempunyai pengalaman yang unik ketika akan mengadakan perjanjian dagang dengan negara lain. Kami sudah sepakat, sudah ada joint commitment untuk menyelesaikan perjanjian itu. Tetapi diundur, karena negara tersebut defisit dengan Indonesia."

"Kemudian dia bilang, jangan diteruskan dulu, kalau nanti kita teruskan perjanjian, kami semakin defisit dengan Indonesia," tutur Budi dalam Peringatan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) di Jakarta, Kamis (3/7/2025).

Negara tersebut dipastikan Mendag bukan tidak mau membuat perjanjian dagang, tetapi menunda. Budi meyakinkan bahwa perjanjian dagang tidak akan membuat defisit.

"Bukan nggak mau, tapi menunda. Tapi saya bilang bahwa namanya perjanjian dagang itu kerjasama yang saling menguntungkan. Kita misalnya butuh produk dari dia, misalnya kita gak punya dan itu perlu kita beli, kita impor ya gak apa-apa. Demikian juga sebaliknya," jelasnya.

Saat ini, Mendag memastikan negosiasi dengan negara tersebut mengenai perjanjian dagang masih dilanjutkan. Pihak dari Indonesia terus meyakinkan negara tersebut.

"Sekarang sudah dimulai perundingan. Sudah mulai duduk bersama, karena mungkin berpikirnya mereka tidak seperti itu."

"Jadi saya sampaikan, kalau kita itu bikin perjanjian dagang pasti untuk saling menguntungkan satu dengan lain. Untuk mempermudah akses pasar satu dengan yang lain. Tentu sesuai dengan barang-barang yang kita butuhkan. Nah, sekarang sudah mulai ini," imbuhnya.

Baca juga: Indonesia-Turki Targetkan Perdagangan USD 10 Miliar, Airlangga Dorong Perjanjian Dagang Cepat

Negara tersebut diprediksi merupakan Amerika Serikat. Indonesia sudah memiliki Kemitraan Strategis Komprehensif (CSP) yang mencakup kerja sama perdagangan, namun belum memiliki Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) bilateral dengan Negeri Paman Sam.

 

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved