Jumat, 1 Mei 2026

Pengusaha Akui Tingkat Pendidikan Pekerja Indonesia Rendah, Tawarkan Solusi Ini

Berdasarkan data, produktivitas Indonesia lebih rendah dari rata-rata negara ASEAN dan pertumbuhannya lambat.

Tayang:
Tribunnews/Endrapta
SDM INDUSTRI - Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bob Azam. Berdasarkan data, produktivitas Indonesia lebih rendah dari rata-rata negara ASEAN dan pertumbuhannya lambat. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bob Azam mengakui bahwa tingkat pendidikan para pekerja di Indonesia masih tergolong rendah.

Pernyataan itu sejalan dengan yang disampaikan oleh Menteri Ketenagakerjaan Yassierli yang menyebut bahwa sekitar 85 persen tenaga kerja Indonesia hanya lulusan SMA.

"Level of Education Indonesia memang tertinggal, artinya lebih rendah," kata Bob kepada Tribunnews, Jumat (4/7/2025).

Meski begitu, Bob menilai kondisi ini masih bisa diatasi. Ia menyarankan agar pelatihan vokasi dapat diaktifkan secara masif.

Baca juga: Meredefinisi Peran Pendidikan Vokasi Kreatif di Tengah Industri Global

Bob juga berharap lebih banyak pihak terlibat dalam pembiayaan program pelatihan vokasi, mengingat pentingnya peningkatan keterampilan bagi para pekerja di Indonesia.

"Jadi, upskilling (peningkatan) dan reskilling (penyegaran keterampilan) benar-benar dijalankan. Begitu juga fundrising-nya termasuk juga migrant worker," ujar Bob.

Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengungkapkan adanya masalah pada kualitas tenaga kerja di Indonesia, salah satunya soal tingkat pendidikan yang masih rendah.

Hal itu ia sampaikan dalam acara KTT INDEF 2025 di Hotel Aryaduta Mentang, Jakarta, Rabu (2/7/2025).

"Unfortunately, kualitas tenaga kerja kita ini juga problem. 85 persen itu adalah lulusan SMA, SMK maksimal. Ini menjadi tantangan kita. Kalau pengangguran standar lah ya," kata Yassierli

Dalam data yang dipaparkan Yassierli, jumlah angkatan kerja Indonesia saat ini mencapai 153,05 juta orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 145,77 juta sudah bekerja, sedangkan 7,28 juta lainnya masih menganggur.

Yassierli mengungkap produktivitas tenaga kerja RI juga masih rendah.

Berdasarkan data yang ia paparkan, produktivitas Indonesia lebih rendah dari rata-rata negara ASEAN dan pertumbuhannya lambat.

"Kalau produktivitas, kita bicara long term. Enggak bisa kita ingin meningkatkan produktivitas 10 persen langsung dalam 2 tahun 3 tahun," ujarnya.

Menurut Yassierli, isu produktivitas sudah lama tidak menjadi fokus utama di Indonesia. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas berkorelasi langsung dengan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved