Jumat, 17 April 2026

Rumah Subsidi

Menteri Maruarar Akhirnya Minta Maaf Usai Banjir Kritik Rumah Subsidi Mini

Gagasan rumah subsidi mini berujung permintaan maaf. Menteri Maruarar Sirait menarik usul rumah 14–24 m² usai gelombang kritik dari publik dan DPR.

Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
RUMAH SUBSIDI MINIMALIS - Menteri Perumahan Rakyat RI Maruarar Sirait alias Ara saat rapat dengan Komisi V DPR RI, di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/7/2025). Menteri Ara menyatakan permohonan maaf dan mencabut ide program rumah subsidi yang diperkecil alias minimalis.  

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAMenteri Perumahan Rakyat Maruarar Sirait akhirnya menyampaikan permohonan maaf di hadapan DPR dan publik setelah gagasannya soal rumah subsidi berukuran sangat kecil menuai kritik tajam. 

Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Kamis (10/7/2025), Ara — sapaan akrabnya — secara terbuka mengakui kekeliruannya dan mencabut usulan kontroversial itu.

"Saya menyampaikan permohonan maaf, saya punya ide dan mungkin kurang tepat. Tujuannya mungkin cukup baik, tapi saya juga masih belajar bahwa ide-ide di ranah publik harus lebih baik lagi," ujar Maruarar dalam rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.

Gagasan rumah subsidi ukuran 14–24 meter persegi sempat diperkenalkan sebagai solusi keterjangkauan rumah bagi anak muda di kota besar. Namun, publik menilai konsep tersebut justru tidak manusiawi dan jauh dari standar hunian layak.

Harga Lahan Tinggi, Ukuran Rumah Dikorbankan

Ara menjelaskan, idenya muncul dari kenyataan bahwa harga tanah di kota-kota besar, terutama Jakarta, sudah terlalu tinggi. Maka, satu-satunya cara yang ia lihat mungkin saat itu adalah mengecilkan ukuran rumah agar tetap terjangkau oleh kaum muda yang ingin tinggal dekat pusat kota.

"Tujuannya sebenarnya sederhana karena kami mendengar banyak anak muda ingin sekali tinggal di kota, tapi kalau tanahnya mahal, mungkin harus diperkecil," terangnya.

Baca juga: Mensesneg Pastikan Polemik Istri Menteri UMKM Maman Abdurahman Tak Sampai Kuping Presiden Prabowo

Namun, reaksi publik dan kritik tajam dari anggota legislatif membuatnya mempertimbangkan ulang pendekatan tersebut. Sebab, konsep rumah 14 meter persegi dinilai tidak sejalan dengan standar hunian layak, bahkan dianggap mencederai martabat warga berpenghasilan rendah.

Ia pun berbesar hati menarik kembali gagasannya.

"Saya sudah mendengar begitu banyak masukan, termasuk dari teman-teman anggota DPR Komisi V. Maka saya sampaikan secara terbuka, menyampaikan permohonan maaf dan saya cabut ide itu. Ya, terima kasih," kata Maruarar disambut apresiasi dari beberapa anggota DPR.

Dikecam DPR dan Masyarakat

RUMAH SUBSIDI - Desain rumah subsidi mungil hasil desain Lippo Group yang dipajang di kantor Nobu Bank, Semanggi, Jakarta Selatan. Ini adalah tipe 2 Kamar tidur dengan Luas Tanah 26,3 meter persegi (2,6 x 10,1 meter) Luas Bangunan 23,4 meter persegi.
Dok: Endrapta Pramudhiaz
RUMAH SUBSIDI - Desain rumah subsidi mungil hasil desain Lippo Group yang dipajang di kantor Nobu Bank, Semanggi, Jakarta Selatan. Ini adalah tipe 2 Kamar tidur dengan Luas Tanah 26,3 meter persegi (2,6 x 10,1 meter) Luas Bangunan 23,4 meter persegi. Dok: Endrapta Pramudhiaz (Endrapta Pramudhiaz/Tribunnews.com)

Gagasan rumah subsidi minimalis itu sempat dipamerkan dalam bentuk prototipe di salah satu pusat perbelanjaan kawasan Semanggi, Jakarta Selatan. 

Dengan luas hanya 14 meter persegi untuk tipe terkecil, desain rumah tersebut mendapat banyak reaksi negatif, terutama dari kalangan keluarga muda dan aktivis perumahan.

Sejumlah anggota DPR dan pakar perumahan juga menilai rumah dengan ukuran tersebut melanggar asas hunian layak. 

Baca juga: Pengembang Curhat, Rapat dengan Menteri Maruarar Kerap Berakhir Tanpa Hasil: Ngomong Doang!

Komisi V DPR RI dalam rapat tersebut mempertanyakan kelayakan dan tujuan kebijakan itu, yang disebut-sebut tak berpihak pada kesejahteraan rakyat. Banyak anggota DPR meminta agar pemerintah lebih memikirkan aspek keadilan sosial dalam kebijakan perumahan.

Tak hanya dari parlemen, kritik dari warganet juga membanjiri media sosial. Gagasan rumah subsidi kecil disebut hanya menciptakan "kotak tidur", bukan hunian yang bermartabat.

Ara mengaku belajar banyak dari reaksi tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved