Sabtu, 30 Agustus 2025

Aspebindo Tinjau Langsung Co-Firing Biomassa di PLTU Lontar Banten, Bicara Target eNDC 2030

Program co-firing menjadi salah satu strategi utama dalam mencapai target enhanced Nationally Determined Contribution 20230.

Istimewa
TINJAU PLTU - Kunjungan lapangan (field trip) Asosiasi Pemasok Energi Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo) ke PLTU Lontar, Banten, Jumat (29/8/2025), untuk melihat langsung implementasi co-firing biomassa. 

TRIBUNNEWS.COM, TANGERANG – Pemanfaatan biomassa sebagai campuran batubara dalam skema co-firing PLTU dinilai semakin strategis dalam mendukung target pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) nasional.

Hal ini menjadi fokus dalam kunjungan lapangan (field trip) Asosiasi Pemasok Energi Mineral dan Batubara Indonesia (Aspebindo)  ke PLTU Lontar, Banten, Jumat (29/8/2025), untuk melihat langsung implementasi co-firing biomassa.

Kunjungan ini menjadi bagian dari komitmen Aspebindodalam mendorong percepatan transisi energi dan pemanfaatan energi bersih di sektor pembangkitan.

Baca juga: Tekan Emisi Karbon, Teknologi CCS Mulai Dikaji di PLTU Pangkalan Susu Sumatera Utara

Komisaris PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) sekaligus Ketua Umum Aspebindo, Anggawira, menegaskan pentingnya kolaborasi antara PLN dan pelaku usaha untuk memastikan keberlanjutan pasokan biomassa.

“Rencana pemenuhan pasokan energi biomassa untuk kebutuhan PLTU memerlukan kerjasama yang baik antara pelaku usaha dan PLN agar pemenuhan pasokan dapat mencapai target yang telah ditentukan,” ujar Anggawira.

Lebih lanjut, Anggawira mengungkapkan bahwa PLN EPI telah memulai penyediaan biomassa secara aktif sejak tahun 2023 dan terus meningkatkan konsumsi co-firing biomassa secara signifikan.

“Sepanjang 2025, konsumsi biomassa untuk co-firing telah menembus angka lebih dari 3 juta ton. Upaya ini berhasil mereduksi emisi dari sektor ketenagalistrikan sebesar lebih dari 3,316 juta ton CO₂e,” tambahnya.

Sejalan dengan itu, Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop Situngkir, menjelaskan bahwa program co-firing menjadi salah satu strategi utama dalam mencapai target enhanced Nationally Determined Contribution (eNDC) 2030 sektor energi. 

“Pemerintah telah menetapkan target eNDC 2030 untuk sektor energi, di mana co-firing substitusi sebagian batubara dengan biomassa di PLTU menjadi salah satu program pengurangan emisi GRK. Target nasionalnya adalah pemanfaatan 9 juta ton biomassa pada tahun 2030,” ujarnya.

PLTU Lontar yang berlokasi di bawah Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Banten 3 menjadi salah satu contoh nyata implementasi co-firing. Senior Manager UBP Banten 3, Ria Indrawan, memaparkan bahwa unit ini secara teknis mampu menyerap hingga 5 persen biomassa dalam proses co-firing

Setiap harinya kami dapat menampung hingga 7.000 ton biomassa untuk co-firing. Ini membuktikan kesiapan teknologi dan operasional kami dalam mendukung program energi hijau.

Ketua Satgas Pangan BPP HIPMI, M. Hadi Nainggolan, yang turut hadir dalam kunjungan ini, menekankan bahwa keberhasilan co-firing tak hanya bergantung pada kesiapan PLTU, tetapi juga pada ekosistem pasokan biomassa yang terintegrasi. 

“Kunci keberhasilan bisnis biomassa adalah membangun ekosistem yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Dengan menggandeng pelaku industri sektor biomassa, artinya kita bisa mengoptimalkan pemenuhan biomassa untuk pasokan ke PLTU,” ujarnya.

Kehadiran perwakilan Aspebindo  dan HIPMI dalam kunjungan ini menjadi sinyal positif atas dukungan dunia usaha terhadap program transisi energi nasional.

Dengan sinergi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta, pemanfaatan biomassa diyakini akan menjadi pilar penting dalam mencapai bauran energi nasional serta target Net Zero Emissions pada 2060.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan