Minggu, 26 April 2026

Ekonom Pesimistis Paket Stimulus Ekonomi Bisa Genjot Ekonomi RI, Ini Alasannya

Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda pesimis paket stimulus ekonomi 8+4+5 dapat meningkatkan ekonomi Indonesia.

Bambang Ismoyo
Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda pesimis paket stimulus ekonomi 8+4+5 dapat meningkatkan ekonomi Indonesia. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Ekonomi CELIOS Nailul Huda pesimis paket stimulus ekonomi 8+4+5 dapat meningkatkan ekonomi Indonesia.

Diketahui, pemerintah mengeluarkan paket stimulus bernama 8+4+5 yang membaginya dalam 3 kategori ataupun jangka waktu. 

Ada 8 program jangka pendek (diselesaikan dalam 6 bulan maksimal), 4 program untuk 2026, dan 5 program untuk penyerapan tenaga kerja. 

Baca juga: Dari Bantuan Beras hingga Diskon Iuran BPJS, Ini Rincian Paket Ekonomi 8+4+5

Menurut dia, secara anggaran, paket stimulus jilid 3 ini relatif lebih kecil dibandingkan paket stimulus pertama dan kedua sebelumnya. 

Jika ditotalkan, stimulus yang sudah dikeluarkan mencapai Rp 57,5 triliun dengan gelontoran di paket kedua pada Juni 2025 mencapai Rp 24,4 triliun.

Huda memamdang dampak dari kedua paket awal itu sangat minim bagi konsumsi rumah tangga.

Pertumbuhan ekonomi triwulan I melambat dan data triwulan II pun diragukan oleh dirinya.

"Jadi, dengan anggaran jilid ketiga sebesar Rp 16,23 triliun, saya tidak banyak berharap akan meningkatkan perekonomian," kata Huda kepada Tribunnews, Selasa (16/9/2025).

Ia ragu paket stimulus ini bisa mengerek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke target 5,2 persen bila dilihat dari stimulusnya yang terbatas dan anggaran lebih kecil.

Baca juga: Pemerintah Siapkan 17 Program Paket Ekonomi 2025, Ini Rinciannya

Meski demikian, Huda mencatat masih ada beberapa poin positif dari kebijakan stimulus ekonomi jilid 3 ini.

Ia mengacungi jempol kebijakan terkait dengan pemberian iuran jaminan kepada pekerja lepas, termasuk driver ojek online, yang menurutnya sudah seharusnya dilakukan sejak lama.

"Kita selalu menyuarakan bahwa harus ada perlindungan bagi semua pekerja, termasuk pekerja lepas," ujar Huda.

Ia menilai, ini bukan hanya soal insentif, tapi lebih kepada pemberian jaminan sosial bagi pekerja secara keseluruhan.

Skema pemberian bantuan ini disebut bisa mendorong pekerja lepas untuk bisa mengakses program pemerintah.

"Jadi, saya harap program ini bukan program jangka  pendek," ucap Huda.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved