Modus Love Scam, Kasus Penipuan Online yang Paling Banyak Memakan Korban
Fenomena love scam sejalan dengan maraknya cerita korban di media sosial. Banyak warganet mengaku dijebak pelaku yang awalnya tampil romantis
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Fenomena scam online atau penipuan daring terus meningkat dan kian meresahkan masyarakat. Salah satu modus yang paling banyak memakan korban adalah love scam, yakni penipuan berkedok asmara yang menjerat perasaan sekaligus menguras uang korban.
Keprihatinan ini disampaikan langsung oleh Founder dan CEO Aman Sentosa Investigation Agency (ASIA), Jubun, yang akrab disapa Detektif Jubun.
Menurutnya, meski kemasan kejahatan digital terus berubah, akar modusnya relatif sama: memanfaatkan kelemahan psikologis korban.
Baca juga: Sindikat Penipuan Online Modus Love Scam Terungkap di Bali, Dikendalikan dari Kamboja
“Modus lama yang muncul kembali kali ini adalah love scam dan ini adalah kasus penipuan individu yang paling banyak ditangani tim kami saat ini,” ungkap Jubun dalam keterangannya, Minggu (26/9/2025).
Fenomena love scam sejalan dengan maraknya cerita korban di media sosial. Banyak warganet mengaku dijebak oleh pelaku yang awalnya tampil romantis di aplikasi kencan atau platform pertemanan.
Pelaku biasanya memulai interaksi dengan teknik love bombing—serangan perhatian dan pujian berlebihan—untuk membuat calon korban merasa spesial. Setelah kepercayaan terbangun, pelaku mulai melancarkan permintaan transfer dana dengan berbagai alasan mendesak, seperti biaya darurat atau investasi bersama.
“Penipuan dengan metode love scam membuat lawannya jatuh cinta, kemudian mengeruk uangnya. Ini yang sedang tren sekarang,” jelas Jubun, yang dikenal luas di kalangan artis, pejabat, dan sosialita.
Baca juga: Tips Agar Tak Terjebak Love Scam Saat Menggunakan Aplikasi Kencan Daring
Tak jarang, kasus berlanjut hingga pelaku menyalahgunakan identitas korban untuk melakukan pinjaman online, sehingga kerugian menjadi berlipat. “Jangan mudah percaya pada orang lain, apalagi di dunia maya. Selalu berhati-hati,” tegas Jubun.
Kolaborasi Detektif dan Pakar Digital
Meningkatnya ancaman love scam mendorong Detektif Jubun memperkuat langkah investigasi dengan menggandeng Bang Albert, seorang edukator dan praktisi keamanan digital bersertifikasi internasional, Bang Albert memegang sertifikat Digital Forensics Essentials (EC-Council) serta Penetration Testing, Incident Response & Forensics (IBM).
Kolaborasi antara Detektif Jubun dan Bang Albert menjadi pesan kuat bahwa keamanan digital bukan hanya soal teknologi, tetapi juga keteguhan hati untuk tidak mudah terlena oleh rayuan manis para pelaku love scam.
Jubun berharap sinergi ini tak hanya membantu korban, tetapi juga meningkatkan kesadaran publik agar lebih waspada. “Pencegahan adalah kunci. Edukasi masyarakat menjadi benteng utama agar kejahatan semacam ini tidak terus memakan korban,” tutupnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/fenomena-scam-online-atau-penipuan-daring.jpg)