Minggu, 19 April 2026

Terus Didorong, Bertani Metode Smart Farming Masih Belum Masif

Pemerintah terus berupaya memperluas adopsi teknologi modern guna meningkatkan produktivitas pertanian.

Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Choirul Arifin
dok. Sang Hyang Seri
SMART FARMING - Aplikasi drone pertanian untuk pemupukan dan perawatan tanaman padi dengan teknik pertanian modern di lahan Sang Hyang Seri di Subang, Jawa Barat. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan) Yudi Sastro mengakui, penerapan teknologi pertanian modern seperti precision farming dan smart farming di Indonesia masih belum masif di lapangan. 

Meski demikian, pemerintah terus berupaya memperluas adopsi teknologi ini guna meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor pertanian nasional.

“Kita sudah ke arah sana sekarang. Baik terkait dengan pemupukan, kita sudah menggunakan IoT segala macam. Tetapi belum termasalisasi dengan baik,” kata Yudi dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (17/10/2025).

Ia menjelaskan, penggunaan teknologi digital di pertanian masih terbatas di kalangan petani milenial dan belum diterapkan secara luas karena masih banyak hambatan struktural di lapangan.

“Level mungkin skalanya belum terlalu besar. Sudah banyak, terutama petani milenial. Tetapi untuk sekarang masal atau di-scaling up ke lebih luas, dengan karakter petani kita juga masih banyak PR, ini masih perlu kita dorong lagi ke depan,” ujarnya.

Menurut Yudi, tantangan terbesar dalam penerapan smart farming di Indonesia adalah kepemilikan lahan yang kecil serta dominan generasi petani tua. Kondisi ini membuat adopsi teknologi modern belum merata di semua wilayah.

“Tantangannya di kita ini kan satu, kepemilikan lahan yang kecil. Kemudian juga generasi petani yang masih didominasi generasi tua, sehingga ini memang masih harus didorong,” tuturnya.

Meski begitu, Yudi optimistis penggunaan teknologi berbasis presisi akan menjadi kunci bagi peningkatan produktivitas pertanian Indonesia di masa depan.

“Inilah sebenarnya ruang kita untuk bisa meningkatkan peran sektor pertanian ini dalam sumbangsih ke pembangunan secara keseluruhan,” pungkasnya.

Baca juga: Genjot Produktivitas, SHS Aplikasikan Drone di 15 Hektare Lahan Padi di Subang Jabar

Precision farming atau pertanian presisi merupakan sistem budidaya yang menggunakan data, sensor, dan teknologi digital untuk memastikan setiap langkah dari pemupukan, penyiraman, hingga panen dilakukan tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat lokasi.

Di antaranya, pemakaian GPS dan drone untuk pemetaan lahan dan pemantauan pertumbuhan tanaman.

Drone pertanian padi OK
SMART FARMING - Aplikasi drone pertanian untuk pemupukan dan perawatan tanaman padi dengan teknik pertanian modern di lahan Sang Hyang Seri di Subang, Jawa Barat.

Selain itu, sensor tanah & cuaca (IoT) buat mendeteksi kadar air, pH, dan unsur hara dan software analytics & AI untuk menentukan dosis pupuk dan waktu tanam terbaik.

Smart Farming atau pertanian cerdas adalah tahap lebih luas dari precision farming, karena mengintegrasikan semua teknologi digital seperti AI, IoT, big data, robotik untuk mengotomatisasi dan mengoptimalkan seluruh rantai produksi pertanian.

Teknologi AI dan machine learning dimaksimalkan untuk memprediksi cuaca dan hasil panen.

Sementara, aplikasi mobile untuk mengontrol irigasi, alat tanam, atau drone jarak jauh dan blockchain & cloud system untuk ketelusuran (traceability) rantai pasok pangan.

 

Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved