Regulasi Etanol 10 Persen di BBM Bisa Kurangi Volume Impor BBM dan Tekan Emisi
Indonesia akan memberlakukan pemakaian campuran etanol 10 persen atau E10 di bahan bakar jenis bensin yang dijual di Indonesia mulai 2026.
Ringkasan Berita:
- Pemakaian etanol 10 persen di BBM diklaim bisa mengurangi ketergantungan impor, menghemat devisa negara, serta menekan emisi gas rumah kaca.
- Sejumlah negara telah lama mengadopsi bahan bakar berbasis etanol seperti Brasil dan Swedia.Â
Â
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia akan memberlakukan pemakaian campuran etanol 10 persen atau E10 di bahan bakar jenis bensin yang dijual di Indonesia mulai 2026.
Langkah ini dinilai bisa mengurangi ketergantungan impor BBM, menghemat devisa negara, serta menekan emisi gas rumah kaca.
Ahli dan Akademisi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) Ronny Purwadi menjelaskan, penggunaan etanol sebagai campuran bensin bukan hal baru di dunia energi.
"Indonesia menuju E10 bertujuan untuk mengurangi impor bahan bakar, menghemat devisa, mengurangi emisi gas rumah kaca hingga memperbaiki lingkungan hidup," tutur Ronny dalam acara diskusi Peranan Bioethanol dalam Industri dan Otomotif yang diadakan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (20/10/2025).
Sejumlah negara telah lama mengadopsi bahan bakar berbasis etanol. Di Brasil, sekitar 80 persen kendaraan merupakan Flexy Fuel Vehicle (FFV) yang dapat menggunakan campuran bensin dan etanol dalam berbagai rasio, bahkan hingga E100 (100 persen etanol).Â
Selain itu, di Swedia, bus-bus transportasi umum di Stockholm sudah menggunakan etanol sebagai bahan bakar utama.
Amerika Serikat, Eropa, India dan Thailand telah menargetkan penerapan E10 sebagai standar nasional bahan bakar mereka.
Sejumlah riset menunjukkan keunggulan teknis etanol dalam meningkatkan efisiensi mesin dan menurunkan emisi.
Studi dari SAE International (Society of Automotive Engineers, 2021) mencatat kendaraan dengan campuran E10-E20 menunjukkan peningkatan thermal efficiency sebesar 3-5 persen, karena nilai oktannya lebih tinggi dibanding bensin murni.
Baca juga: Dukung Pemakaian Etanol di BBM, PTPN I Sanggup Pasok 36.000 Kiloliter per Tahun
Penelitian di Universitas Sao Paolo, Brasil (2019) juga menunjukkan bahwa kendaraan FFV yang menggunakan E100 mampu menghasilkan torsi dan tenaga setara bensin, meskipun konsumsi bahan bakarnya meningkat sekitar 25 persen karena nilai kalor etanol lebih rendah.
Di Indonesia, hasil riset Institut Teknologi Bandung (2023) menunjukkan bahwa penggunaan E20 pada motor bensin 110cc mampu menghasilkan efisiensi termal setara bensin murni, serta menurunkan emisi karbon monoksida (CO) hingga 22 persen.
Ronny menjelaskan, meskipun etanol memiliki nilai kalor lebih rendah, bahan ini memiliki nilai oktan lebih tinggi yang justru membantu proses pembakaran lebih efisien.
Baca juga: Pemerintah Diminta Tak Terburu-buru Terapkan Kebijakan Campuran Etanol 10 Persen pada BBM
Akan tetapi, kendaraan lama dengan sistem platina perlu dilakukan penyesuaian pengapian agar sesuai dengan karakteristik etanol.
"Kendaraan baru dengan sistem injeksi umumnya sudah memiliki mekanisme adaptif yang dapat mengatur waktu pengapian secara otomatis," terang Ronny.
Selain itu, Ronny menekankan pentingnya penyimpanan yang baik untuk bensin ber-etanol agar kualitasnya tidak berubah.
"Campuran ini harus dijaga agar tidak menyerap air, karena dapat menyebabkan pemisahan antara bensin dan etanol," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Akademisi-ITB.jpg)