Mendag Budi Sebut Jadi Eksportir Tak Harus Punya Produk Sendiri, Cukup Jadi Agregator
Mendag menyebut pelaku usaha mikro, kecil, dan mengenah (UMKM) yang ingin menembus pasar ekspor tidak wajib memiliki produk atau pabrik sendiri.
Ringkasan Berita:
- Pelaku UMKM bisa berperan sebagai agregator yang menghimpun berbagai produk dari pelaku usaha lain untuk kemudian diekspor
- Agregator berfungsi mengumpulkan dan mengajarkan para pelaku UMKM. Setelah itu, agregatorlah yang mengekspor barang-barang tersebut
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebut pelaku usaha mikro, kecil, dan mengenah (UMKM) yang ingin menembus pasar ekspor tidak wajib memiliki produk atau pabrik sendiri.
Menurut dia, pelaku UMKM bisa berperan sebagai agregator yang menghimpun berbagai produk dari pelaku usaha lain untuk kemudian diekspor.
"Eksportir itu tidak harus memproduksi, jadi agregator saja. Yang UMKM ekspor itu banyak agregator," katanya dalam acara Rapimnas Kadin Indonesia 2025 di Jakarta Pusat, Senin (1/12/2025).
Baca juga: Mendag Budi Antisipasi Kenaikan Harga Cabai hingga Telur Ayam Jelang Natal dan Tahun Baru
Budi menjelaskan, agregator berfungsi mengumpulkan dan mengajarkan para pelaku UMKM. Setelah itu, agregatorlah yang mengekspor barang-barang tersebut.
Ia mencontohkan seorang eksportir dari Surabaya yang berperan sebagai agregator dan mampu mengekspor sepatu dengan harga Rp 50 ribu per pasang.
Eksportir itu tidak memiliki pabrik, melainkan hanya gudang yang dipakai sebagai fasilitas persiapan ekspor.
"Dia (agregator tersebut) enggak punya pabrik, dia cuma punya gudang. Gudangnya itu hanya untuk persiapan ekspor, nanti dia mengerjakan ibu-ibu di home industry itu. Di Surabaya, Mojokerto dan Sidoarjo. Dia ekspor ke Kuwait," ujar Budi.
Eksportir tersebut ingin menunjukkan kepada Budi bahwa bukan hanya China yang mampu mengirim produk berharga murah, tetapi Indonesia juga bisa melakukannya.
Intinya, di sini Budi ingin menyampaikan bahwa menjadi eksportir tidak selalu membutuhkan produksi sendiri.
"Nah, jadi agregator saja kalau enggak bisa punya produksi. Bayangan mereka ekspor harus bikin pabrik, [padahal] enggak usah," ucap Budi.
Sebagai informasi, saat ini Kemendag memiliki program UMKM BISA Ekspor untuk mendorong pelaku UMKM tembus ekspor.
Kemendag menyediakan kegiatan pitching dan business matching dengan calon buyer internasional melalui fasilitasi 46 perwakilan perdagangan Indonesia yang ada di 33 negara.
Baca juga: Menko Muhaimin Sebut Alfamart-Indomaret Bunuh UMKM, Mendag: Sekarang Sudah Ada Pola Kemitraan
Perwakilan perdagangan Pemerintah RI di luar negeri akan membantu mempertemukan UMKM dengan calon buyer di luar negeri.
Prosesnya bisa dilakukan secara daring, bahkan tanpa perlu bertemu langsung dengan pembeli.
Sepanjang Januari–Oktober 2025, program UMKM Bisa Ekspor telah memfasilitasi sebanyak 1.049 UMKM, dengan total nilai transaksi mencapai 130,17 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 2,17 triliun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menteri-Perdagangan-Budi-Santoso-ketika-ditemui-di-sela-sela-acara-Rapimnas-2025.jpg)