Kamis, 23 April 2026

China Masih Jadi Pasar Utama Ekspor Minyak Sawit Indonesia

GAPKI mengungkap bahwa China hingga kini masih menjadi pasar terbesar bagi ekspor minyak sawit Indonesia.

(Ho/Campus League)
EKSPOR SAWIT - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengungkap bahwa China hingga kini masih menjadi pasar terbesar bagi ekspor minyak sawit Indonesia. 

Ringkasan Berita:
  • GAPKI menegaskan China masih menjadi importir terbesar minyak sawit Indonesia, meski terjadi fluktuasi ekspor.
  • Sebelum pandemi (2019) ekspor mencapai 8 juta ton, turun jadi 5 juta ton saat pandemi, naik ke 7,736 ton pada 2023, lalu kembali turun ke 5,355 ton pada 2024 karena harga sawit lebih mahal dibanding minyak nabati lain.
  • Minyak sawit Indonesia di China banyak diolah menjadi produk turunan, namun tidak digunakan untuk energi karena China lebih memilih minyak kedelai.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengungkap bahwa China hingga kini masih menjadi pasar terbesar bagi ekspor minyak sawit Indonesia.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menjelaskan, sebelum pandemi Covid-19 atau tepatnya pada 2019, China mengimpor minyak sawit Indonesia sebesar 8 juta ton. 

Namun, pada saat pandemi Covid-19 melanda, angka ekspor minyak sawit RI ke China turun menjadi 5 juta ton. 

Angka ekspor kemabli meningkat pada 2023 menjadi 7,736 ton. Sayangnya, pada 2024 turun kembali menjadi 5,355 ton. 

Penurunan ekspor minyak sawit ke China sepanjang 2024 turun karena harga minyak sawit lebih mahal dibandingkan minyak nabati lainnya. 

"Namun, China tetap menjadi importir terbesar untuk sawit Indonesia," kata Eddy kepada Tribunnews, Kamis (4/12/2025).

Ia menilai China merupakan mitra strategis RI karena Negeri Tirai Bambu memiliki pasar yang sangat besar. 

Di China, ia menyebut minyak sawit asal Indonesia banyak diolah menjadi berbagai produk turunan. 

Kemudian, walaupun penggunaan minyak sawit untuk energi tengah meningkat di berbagai negara, Eddy menyebut kondisi tersebut tidak berlaku di China

"Untuk energi mereka menggunakan minyak kedelai karena mereka punya itu, walaupun biji kedelai impor dari Amerika dan Amerika Latin," ujar Eddy. 

Tingginya impor minyak sawit Indonesia oleh China disebut mendapat respons positif di negara tersebut, termasuk dalam pemberitaan media lokal.

GAPKI sendiri telah bekerja sama dengan China Chamber of Commerce for Import and Export of Foodstuffs (Kamar Dagang China untuk Impor dan Ekspor Produk Pangan). 

Kerja sama dengan CNFA sudah berlangsung selama tiga tahun dan rencananya akan diperpanjang pada bulan ini. 

Kolaborasi itu juga melibatkan WWF China. Eddy menilai ini bagus untuk kampanye positif sawit Indonesia di China

Kampanye yang positif dinilai penting karena ini menyangkut kepentingan ekonomi China

"Kita (Indonesia) juga banyak impor dari mereka. Saya rasa sawit ini bisa sebagai penyeimbang," ucap Eddy. 

Ia berharap Pemerintah Indonesia terus memberikan dukungan agar pangsa pasar Indonesia terus meningkat. 

Ia menegaskan, peluang peningkatan pangsa pasar masih sangat besar karena China dinilai sangat terbuka terhadap produk sawit RI.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved