370 Ribu Warga Jadi Korban Scam, OJK Peringatkan Bahaya Kejahatan Digital
Perkembangan layanan keuangan digital seperti sistem pembayaran nontunai pembiayaan digital, hingga identitas elektronik mendorong penetrasi teknologi
Ringkasan Berita:
- OJK menegaskan penguatan perlindungan konsumen di tengah meningkatnya kejahatan digital, dengan 370.000 laporan dan potensi kerugian Rp8,2 triliun sepanjang 2025.
- Mandiri BFN Fest 2025 menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat literasi, keamanan, dan ekosistem fintech.
- Acara ini diharapkan mendorong inovasi yang aman, inklusif, dan terpercaya.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Pesatnya transformasi digital di sektor jasa keuangan membawa peluang besar bagi inklusi keuangan dan efisiensi layanan.
Namun dibalik kemudahan transaksi nontunai, pembiayaan digital, hingga pemanfaatan identitas elektronik, ancaman kejahatan siber dan penipuan digital kian menguat dan berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap industri keuangan nasional. Kondisi inilah yang menjadi perhatian serius Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di tengah akselerasi ekosistem fintech dan layanan keuangan berbasis teknologi.
Baca juga: OJK Beri Mandat Aftech Sahkan Kode Etik untuk Industri Fintech Nasional
Deputi Komisioner Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan dan Perlindungan Konsumen OJK, Rizal Ramadhani, menegaskan bahwa penguatan perlindungan konsumen kini menjadi prioritas utama regulator untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan industri jasa keuangan digital. Hal tersebut disampaikan Rizal saat membuka Mandiri BFN Fest 2025, puncak peringatan Bulan Fintech Nasional, yang digelar di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
“OJK mencatat hingga November 2025, Anti-Scam Center telah menerima lebih dari 370 ribu laporan terkait penipuan, peretasan, dan berbagai modus kejahatan digital lainnya. Potensi kerugian yang muncul dari laporan tersebut mencapai Rp8,2 triliun,” ungkap Rizal.
Menurutnya, lonjakan laporan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa percepatan digitalisasi sektor keuangan tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga membawa risiko baru yang harus dikelola secara sistematis dan berkelanjutan. Tanpa penguatan edukasi konsumen, standar keamanan, dan pengawasan regulator yang adaptif, transformasi digital berpotensi menimbulkan celah yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan.
Rizal menjelaskan, perkembangan layanan keuangan digital seperti sistem pembayaran nontunai, pembiayaan digital, hingga penggunaan identitas elektronik mendorong penetrasi teknologi yang semakin luas ke berbagai lapisan masyarakat. Namun, akses yang semakin terbuka tersebut harus diimbangi dengan peningkatan literasi keuangan dan literasi digital agar masyarakat dapat terlindungi dari risiko penipuan dan kebocoran data.
“Inovasi digital harus diiringi dengan penguatan kepercayaan publik. Sinergi antarotoritas dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menangkal risiko serta memastikan transformasi digital benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tegasnya.
Mandiri BFN Fest 2025 sendiri diikuti oleh lebih dari 90 kontributor dan mitra asosiasi dari dalam dan luar negeri, termasuk sejumlah organisasi internasional. Ajang ini menghadirkan lebih dari 90 program edukasi, penguatan integritas industri, serta membuka sekitar 160 peluang kerja bagi masyarakat.
Baca juga: OJK Buka Rekrutmen Pendidikan Calon Asisten Manajer dan Multi Level Entry 2025, Berikut Syaratnya
Puncak acara tersebut diisi dengan rangkaian konferensi, expo, serta sesi networking industri seperti Jakarta Fintech Connect dan Digital x Real Sector Clinic. Tak kurang dari 5.000 pengunjung ditargetkan hadir, dengan hampir 100 narasumber dari 26 negara yang berbagi pandangan mengenai masa depan industri fintech global dan nasional.
Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Pandu Sjahrir, menyebut Mandiri BFN Fest 2025 sebagai babak baru dalam penguatan ekosistem fintech Indonesia. Menurutnya, agenda ini merupakan kelanjutan dialog strategis dari FEKDI dan IFSE 2025 yang sebelumnya diselenggarakan oleh Bank Indonesia dan OJK.
“Fintech bukan hanya soal inovasi, tetapi bagaimana inovasi tersebut memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan sektor riil. Mandiri BFN Fest menjadi ruang kolaborasi terbesar untuk memperluas edukasi sekaligus meningkatkan kepercayaan publik,” ujar Pandu.
Sementara itu, Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista menilai Mandiri BFN Fest sebagai momentum penting untuk memperkuat sinergi antara perbankan, fintech, regulator, dan pelaku industri.
“Dengan ekosistem yang semakin terintegrasi, kami berharap forum ini menghadirkan lebih banyak kolaborasi yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, memperluas lapangan kerja, serta mempercepat digitalisasi UMKM,” kata Adhika.
Rizal kembali menekankan bahwa meningkatnya ratusan ribu laporan kejahatan digital harus menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan. Ia mengapresiasi AFTECH yang menempatkan isu transformasi digital dan perlindungan konsumen sebagai agenda utama dalam Mandiri BFN Fest 2025.
Baca juga: 200 Juta Warga Sudah Tersentuh Edukasi Keuangan, OJK Ingatkan Ancaman Scam Rp7,3 Triliun
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/BFN-Fest-dan-OJK.jpg)