Kementerian P2MI Libatkan 14 Perguruan Tinggi Atasi Lonjakan Pencari Kerja
Para pencari kerja dari generasi Z juga memiliki kesenjangan antara kompetensi yang mereka siapkan dengan kebutuhan pekerjaan yang ada.
Ringkasan Berita:
- Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) bermitra dengan perguruan tinggi untuk mengatasi fenomena meningkatnya jumlah masyarakat yang putus asa dalam mencari kerja.
- Para pencari kerja dari generasi Z juga memiliki kesenjangan antara kompetensi yang mereka siapkan dengan kebutuhan pekerjaan yang ada.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) melibatkan perguruan tinggi dan lembaga pendidikan guna mengatasi fenomena meningkatnya jumlah masyarakat yang putus asa dalam mencari kerja.
Menteri P2MI Mukhtaruddin mengatakan, ada kesenjangan antara kompetensi para pencari kerja dari generasi X dengan kebutuhan ruang lapangan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi teknologi.
Sedangkan para pencari kerja dari generasi Z juga memiliki kesenjangan antara kompetensi yang mereka siapkan dengan kebutuhan pekerjaan yang ada.
Selain itu, ada juga kesenjangan antara kompetensi yang disiapkan perguruan tinggi atau lembaga pendidikan, dengan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja.
"Ini harus kita perbaiki. Kalau dunia kerja kan membutuhkan kompetensi ini, syarat ini, syarat itu, begitu dia mau masuk, lho ternyata saya tidak memenuhi syarat kompetensi."
"Akhirnya mereka menimbulkan keputusasaan. Ini yang harus kita perbaiki dari sisi penyiapan sumber daya manusianya," ucap dia.
Untuk itu, ia mengatakan pihaknya perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak termasuk perguruan tinggi.
Kementerian P2MI meneken 13 Nota Kesepahaman (MoU) dan 5 Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama 14 perguruan tinggi maupun lembaga pendidikan,
Yakni, Politeknik Negeri Kupang, Universitas Brawijaya, Universitas Tadulako, Universitas Al-Azhar Mataram, Universitas Syiah Kuala Aceh, Universitas Teknologi Bandung, dan STIKES Budi Luhur Cimahi.
Ruang lingkup MoU dan PKS itu meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat.
Selain itu, juga mencakup pertukaran data dan informasi terkait pelindungan pekerja Mmigran, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kurikulum, pembentukan dan pengembangan pusat layanan migran serta penyelarasan kompetensi calon pekerja migran sesuai kebutuhan negara tujuan penempatan.
"Ini yang sedang saya jajaki. Ini kan penelitian baru dimulai. Baru dua tahun ini penelitian dilakukan oleh UI. Dan ini trennya naik orang yang putus ada mencari kerja. Ini ada (kenaikan) 11 persen tahun 2025. Ini hasil lembaga kajian di UI," pungkasnya.
Laporan Labor Market Brief
Dikutip dari Kompas.com, Labor Market Brief dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) melaporkan munculnya fenomena pencari kerja yang putus asa di 2025.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Mukhtaruddin-P2MI-OK.jpg)