Kamis, 16 April 2026

Geopolitik Memanas, 2026 Dinilai Bukan Waktunya Bereksperimen Kebijakan

meluasnya risiko geopolitik menjadi signal pentingnya bagi Indonesia menjaga stabilitas keuangan dan nilai tukar sebagai prioritas utama.

Editor: Sanusi
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
EKONOMI GLOBAL - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menilai meluasnya risiko geopolitik menjadi signal pentingnya bagi Indonesia menjaga stabilitas keuangan dan nilai tukar sebagai prioritas utama. 

Ringkasan Berita:
 
  • Prasasti menilai meningkatnya risiko geopolitik global membuat 2026 bukan waktu yang tepat untuk banyak eksperimen kebijakan.
  • Stabilitas, konsistensi, dan kualitas eksekusi kebijakan dinilai krusial untuk menjaga keuangan dan nilai tukar.
  • Nilai tukar menjadi risiko utama jika sentimen global memburuk, meski fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan negaranya menarik diri dari 66 organisasi internasional, termasuk 31 badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 35 organisasi non PBB yang dinilai tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional AS.

Hal ini terjadi setelah sebelumnya AS menuai kritik karena menyerang Venezuela, menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores, serta menerbangkan keduanya keluar dari negara tersebut atas tuduhan keterlibatan dalam narko-terorisme yang mengancam AS.

Ketegangan ini muncul bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran geopolitik di kawasan lain, termasuk adanya kemungkinan terjadi pada hubungan China–Taiwan.

Baca juga: 2026: Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp 17.000 karena Tekanan Geopolitik Global

Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) menilai meluasnya risiko geopolitik menjadi signal pentingnya bagi Indonesia menjaga stabilitas keuangan dan nilai tukar sebagai prioritas utama.

“Ini bukan tahun untuk terlalu banyak eksperimen kebijakan. Arah strategis sudah ada, yang paling dibutuhkan sekarang adalah konsistensi dan kualitas eksekusi,” ujar Research Director Prasasti, Gundy Cahyadi, Jumat (12/1/2026).

Prasasti menilai Indonesia relatif siap menghadapi peningkatan ketidakpastian global. Namun, di tengah risiko geopolitik yang meningkat, ruang kesalahan menjadi semakin sempit.

Stabilitas, kredibilitas kebijakan, dan eksekusi yang efektif menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional ke depan.

Gundy menilai, kestabilan kebijakan menjadi kunci untuk menanggapi risiko geopolitik yang semakin kompleks dan berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi global.

“Jika ketegangan politik meluas ke luar kawasan konflik utama, risikonya terhadap perdagangan, investasi, dan koordinasi kebijakan global akan jauh lebih signifikan,” jelasnya.

Meski demikian, Prasasti mencatat bahwa perekonomian global sejauh ini relatif mampu bertahan.

Dalam jangka pendek, Prasasti menilai pasar keuangan menjadi kanal transmisi utama. Valuasi aset global yang relatif tinggi membuat sentimen pasar lebih sensitif terhadap guncangan politik.

“Dalam kondisi pasar yang sudah ‘stretched’, shock geopolitik sekecil apa pun bisa dengan cepat mengguncang dan mengganggu stabilitas pasar keuangan,” kata Gundy.

Sementara itu, dampak terhadap harga minyak global sejauh ini masih terbatas.

Kondisi suplai energi yang relatif longgar, termasuk kebijakan produksi OPEC dan ketahanan produksi minyak serpih Amerika Serikat, membantu menjaga stabilitas harga.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved