Rabu, 8 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Konflik Iran-AS Picu Risiko bagi Strategi China di Timur Tengah

Risiko kerugian, baik secara ekonomi maupun geopolitik, di tengah eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Editor: Wahyu Aji
HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni
DAMPAK PERANG - Peluncuran rudal Sejjil milik Iran. Rudal balistik berbahan bakar padat ini dilaporkan mendapatkan penyempurnaan dengan sistem panduan satelit navigasi BeiDou China. 

Ringkasan Berita:
  • Konflik Iran vs AS–Israel mengancam investasi besar China di Iran (infrastruktur, energi, BRI).
  • Proyek strategis seperti jalur kereta, koridor perdagangan, dan ekspansi BRI di Iran dan Timur Tengah terancam tertunda atau terganggu, sekaligus meningkatkan risiko bagi aset China di negara lain seperti UEA dan Arab Saudi.
  • China juga melindungi kepentingannya di Timur Tengah sambil menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai pihak, di tengah perubahan dinamika kekuatan global akibat konflik.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - China disebut menghadapi risiko kerugian, baik secara ekonomi maupun geopolitik, di tengah eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Dikutip dari Asian News Post, Kamis (2/4/2026), kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kepentingan strategis Beijing di Timur Tengah, khususnya yang terkait dengan investasi dan keamanan energi.

Timur Tengah selama ini menjadi kawasan penting dalam strategi global China, mengingat posisinya sebagai jalur perdagangan utama serta pusat investasi strategis.

Sejak 2005, China telah menanamkan investasi di Iran.

Hubungan kedua negara semakin diperkuat setelah kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Teheran pada 2016, yang diikuti penandatanganan kerja sama dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI).

Pada 2021, Beijing dan Teheran menandatangani kemitraan strategis komprehensif yang mencakup rencana investasi jangka panjang senilai US$400 miliar, termasuk di sektor infrastruktur dan energi.

Namun, konflik yang berkembang saat ini dinilai menimbulkan ketidakpastian terhadap proyek-proyek tersebut, termasuk risiko terhadap aset tetap serta pasokan minyak dari Iran.

Selain itu, kemungkinan perubahan politik di Iran juga dinilai dapat memengaruhi rencana China dalam membangun koridor perdagangan menuju Afrika dan Eropa melalui wilayah tersebut.

Dampak terhadap Jaringan Regional

Selama ini, China tidak hanya berinvestasi di Iran, tetapi juga memperluas kehadirannya ke negara-negara Timur Tengah lainnya, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Israel.

Namun, meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk potensi serangan balasan Iran terhadap negara-negara tertentu, dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap investasi China di wilayah tersebut.

Kondisi ini menciptakan tantangan bagi Beijing dalam menjaga keseimbangan hubungan dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan berbeda di kawasan.

China memiliki keterlibatan besar dalam pembangunan infrastruktur di Iran, khususnya di sektor perkeretaapian.

Iran menargetkan perluasan jaringan rel hingga 25.000 kilometer, dengan nilai proyek sekitar US$25 miliar. Sejumlah perusahaan milik negara China terlibat dalam pembiayaan dan pelaksanaan proyek tersebut.

Selain itu, terdapat kontrak sebelumnya senilai US$13 miliar untuk pembangunan jalur rel sepanjang lebih dari 5.000 kilometer.

Proyek ini dinilai penting dalam menghubungkan Iran dengan jaringan transportasi regional yang lebih luas, termasuk Asia Tengah, China, dan Eropa.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved