Jumat, 24 April 2026

Rupiah Melemah ke Rp 16.860 Per Dolar AS, Purbaya Yakin Menguat 2 Pekan Lagi

Pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya seperti won Korea Selatan dan peso Filipina yang kini terdepresiasi.

|
Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Choirul Arifin
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
RUPIAH DIYAKINI KEMBALI MENGUAT - Warga memperlihatkan uang kertas baru pecahan Rp 75.000 di layanan penukaran uang di Kantor Perwakilan wilayah (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Barat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung. Menkeu Purbaya optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan menguat dalam dua pekan ke depan setelah melemah ke level Rp 16.860 per dolar AS, Selasa. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

Ringkasan Berita:
  • Menkeu Purbaya optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat akan menguat dalam dua pekan ke depan setelah melemah ke level Rp 16.860 per dolar AS, Selasa.
  • Penguatan nilai tukar rupiah akan terjadi seiring meningkatnya kepercayaan investor asing terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia.
  • Pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya seperti won Korea Selatan dan peso Filipina yang kini terdepresiasi.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan menguat dalam dua pekan ke depan setelah melemah ke level Rp 16.860 per dolar AS pada Selasa (13/1/2026) kemarin 

Meski begitu, Purbaya menegaskan bahwa kebijakan nilai tukar rupiah sepenuhnya menjadi kewenangan Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral.

"Kalau rupiah kan saya enggak bisa ngomong, rupiah kan urusan bank sentral. Tapi begini kalau nanti ekonominya membaik terus harusnya rupiah kan menguat juga," ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (14/1/2026).

"(Akan menguat) Dua minggu ini," imbuh Purbaya.

Bendahara negara menjelaskan, penguatan rupiah akan terjadi seiring meningkatnya kepercayaan investor asing terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut dia, modal asing akan mengalir ke negara yang menjanjikan pertumbuhan ekonomi tinggi.

"Modal-modal asing akan masuk, mereka akan masuk ke tempat yang negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi. Kita kan kemarin mungkin triwulan keempat 5.45 kali ya triwulan tahun-tahun ini mungkin kita bisa tumbuh ke arah 6 persen. Kita akan dorong ke arah sana," ujar Purbaya.

"Jadi kalau itu mereka udah yakin. Jadi anda gak usah takut fondasi kita kuat Rupiah akan masuk karena modal akan masuk ke sini," sambungnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah ke level Rp 16.860 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (13/1/2026).

Baca juga: Mata Uang Regional Asia Kompak Melemah Terhadap Dolar AS

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan, pergerakan mata uang global termasuk Rupiah saat ini banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan dunia yang sedang bergejolak.

Selain faktor global, meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri pada awal tahun turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah

Kondisi tersebut mendorong Rupiah melemah dan ditutup pada level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi 1,04 persen secara year-to-date (ytd).

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," kata Erwin dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).

Baca juga: Mata Uang Regional Asia Kompak Melemah Terhadap Dolar AS

Erwin menegaskan pelemahan rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya. Ia menyebut, won Korea Selatan melemah 2,46 persen, sementara peso Filipina terdepresiasi 1,04 persen akibat sentimen global yang sama.

Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia terus menjalankan kebijakan stabilisasi secara konsisten dan berkelanjutan. Langkah tersebut dilakukan melalui intervensi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved