Minggu, 17 Mei 2026

IHSG Naik tapi Rupiah Melemah, Begini Penjelasan Ekonom Bank Permata

Josua Pardede mengatakan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah rupiah yang melemah bukan merupakan fenomena yang aneh

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pada perdagangan Selasa (20/1/2026) sore, rupiah ditutup melemah tipis satu poin dari Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.955. 

Selain itu, juga bisa karena skenario pelebaran defisit dan risiko suplai surat utang yang lebih tinggi, serta potensi berkurangnya pasokan valas jangka pendek karena pengetatan atau perubahan ketentuan devisa hasil ekspor yang bisa menahan konversi valas ke rupiah.

Pada saat yang sama, saham justru bisa menguat karena ada dorongan likuiditas dan ekspektasi pertumbuhan, ditambah efek rupiah yang lebih lemah terhadap emiten tertentu.

Contohnya seperti perusahaan berorientasi ekspor atau berbasis komoditas sering terlihat labanya lebih besar dalam rupiah, sehingga minat investor ke sahamnya naik dan ikut mengangkat indeks.

Baca juga: Rupiah Kembali Melemah Setelah Sempat Menguat Tipis di Level Rp 16.953 per Dolar AS

Selain itu, kebijakan likuiditas yang membuat suku bunga pasar uang jangka pendek lebih turun biasanya lebih cepat mendukung pasar saham daripada menguatkan rupiah.

Hal itu dikarenakan penurunan imbal hasil rupiah justru bisa mengurangi daya tarik parkir dana asing di instrumen rupiah.

"Pola tersebut bisa bertahan cukup lama bila sumber tekanan rupiah belum berubah," ucap Josua.

Cara Agar IHSG dan Rupiah Bisa Sama-sama Menguat

Menurut dia, agar rupiah dan IHSG kembali selaras menguat, biasanya dibutuhkan kombinasi yang jelas.

Pertama, pasokan valas membaik, contohnya seperti surplus dagang kembali melebar dan konversi valas eksportir lebih lancar.

Kedua, persepsi risiko fiskal menurun. Ketiga, kondisi global lebih tenang, sehingga dana asing tidak terlalu merepatriasi likuiditas valasnya.

Jika tiga hal itu terjadi, rupiah punya ruang pulih tanpa harus mengorbankan penguatan IHSG.

Sebab, penguatan rupiah juga menurunkan tekanan biaya impor dan memberi napas pada daya beli, yang pada akhirnya juga baik untuk saham. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved