Senin, 27 April 2026

Rupiah Menguat ke Rp 16.820 Pada Jumat Sore, Langkah Donald Trump Jadi Pemicunya

Pada perdagangan Jumat (23/1/2026) sore ini, rupiah ditutup menguat 76 poin ke level Rp 16.820 per dolar Amerika Serikat dari Rp 16.896 per dolar AS

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pada perdagangan Jumat (23/1/2026) sore ini, rupiah ditutup menguat 76 poin ke level Rp 16.820 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.896 per dolar AS 

Ringkasan Berita:
  • BI menerapkan intervensi valuta asing (foreign exchange intervention/FXI) untuk mengelola volatilitas nilai tukar
  • Dari dalam negeri, faktor yang bermain dalam penguatan rupiah adalah IMF meminta Bank Indonesia untuk berhati-hati dalam melakukan intervensi rupiah di pasar valuta asing.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada perdagangan Jumat (23/1/2026) sore ini, rupiah ditutup menguat 76 poin ke level Rp 16.820 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.896 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas yang merupakan Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkap penguatan rupiah seiring dengan pelemahan indeks dolar AS.

Ada sejumlah faktor dari luar dan dalam negeri yang mempengaruhi penguatan rupiah pada Jumat sore ini.

Baca juga: Rupiah Kembali Melanjutkan Penguatan Pagi Ini, Tinggalkan Level Rp16.900 per Dolar AS

Faktor pertama, pasar saat ini menunggu pilihan Presiden AS Donald Trump untuk Ketua Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang akan menggantikan Jerome Powell.

"Ketua The Fed yang lebih lunak akan meningkatkan spekulasi tentang penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini," kata Ibrahim dalam keterangan tertulis pada Jumat ini.

Faktor kedua, data ekonomi AS terbaru menunjukkan bahwa perekonomian berjalan lebih baik dari yang diperkirakan.

Produk Domestik Bruto (PDB) pasa kuartal ketiga melebihi perkiraan.

Pada saat yang sama, pasar tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda stabilitas daripada kelemahan, seperti yang ditunjukkan oleh para pejabat Federal Reserve (Fed).

"Oleh karena itu, ekspektasi penurunan suku bunga pada pertemuan 27-28 Januari kemungkinan sudah tidak berlaku lagi," ujar Ibrahim.

Faktor ketiga, Presiden AS Donald Trump melunakkan ancaman terhadap Greenland.

Ancaman melunak setelah Donald Trump menyebut dirinya telah mengamankan akses total dan permanen AS ke Greenland dalam kesepakatan dengan NATO.

"Kepala NATO mengatakan sekutu harus meningkatkan komitmen mereka terhadap keamanan Arktik untuk menangkal ancaman dari Rusia dan China," ucap Ibrahim.

Masih berhubungan dengan Greenland, para pemimpin Uni Eropa disebut akan mempertimbangkan kembali hubungan dengan AS.

Hal itu setelah ancaman Donald Trump tentang tarif dan bahkan tindakan militer untuk memperoleh Greenland sangat mengguncang kepercayaan dalam hubungan transatlantik.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved