Harga Emas Melejit, Tembus 5.000 Dolar AS untuk Pertama Kalinya Gara-gara Gejolak Global
Harga emas terus meroket melonjak ke rekor tertinggi di atas 5.000 dolar AS per ons untuk pertama kalinya pada perdagangan hari ini.
Ringkasan Berita:
- Harga emas terus meroket melonjak ke rekor tertinggi di atas 5.000 dolar AS per ons untuk pertama kalinya pada perdagangan hari ini di awal pekan.
- Harga emas tercatat sudah terkerek sebesar 15 persen sejauh ini di tahun 2026 saja.
- Nilai tukar dolar AS yang melemah juga makin mendorong lonjakan permintaan atas emas.
TRIBUNNEWS.COM, SINGAPURA– Harga emas terus meroket melonjak ke rekor tertinggi di atas 5.000 dolar AS per ons untuk pertama kalinya pada perdagangan hari ini awal pekan, Senin 26 Januari 2026.
Tren ini memperpanjang reli bersejarah karena investor berbondong-bondong membeli aset safe-haven di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Harga emas spot naik 0,94 persen menjadi US$5.029,62 per ons pada pukul 23.21 GMT, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari naik 1,02 persen menjadi US$5.029,70 per ons.
“Perkiraan kami untuk tahun ini adalah harga emas akan mencapai titik tertinggi US$6.400 per ons dengan rata-rata US$5.375,” kata analis independen Ross Norman dikutip Reuters.
Harga emas melonjak 64 persen pada tahun 2025, didukung oleh pemotongan suku bunga Federal Reserve, permintaan bank sentral – dengan China memperpanjang aksi pembelian emasnya untuk bulan ke-14 pada bulan Desember – dan rekor arus masuk ke dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
Harga emas tercatat sudah terkerek sebesar 15 persen sejauh ini di tahun 2026 saja karena meningkatnya risiko geopolitik telah menambah dorongan pada apa yang disebut perdagangan pelemahan nilai mata uang, di mana investor menarik diri dari mata uang dan obligasi pemerintah.
Baca juga: Harga Emas Pekan Depan Berpeluang Tembus 5.100 Dolar AS
Dalam beberapa minggu terakhir, tindakan pemerintahan Trump – serangan terhadap independensi Federal Reserve, ancaman untuk mencaplok Greenland, intervensi militer di Venezuela – telah membuat pasar panik.
Reli emas yang memecahkan rekor – logam mulia ini telah meningkat lebih dari dua kali lipat selama dua tahun terakhir – menegaskan peran historis emas sebagai indikator ketakutan di pasar.
Bagi investor yang ingin menavigasi ketidakpastian ini, daya tarik emas sebagai aset aman jarang sekali semenarik ini.
“Emas adalah kebalikan dari kepercayaan,” kata Max Belmont, manajer portofolio di First Eagle Investment Management. “Ini adalah lindung nilai terhadap lonjakan inflasi yang tidak terduga, penurunan pasar yang tidak diantisipasi, dan peningkatan risiko geopolitik," sebutnya.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini Minggu, 25 Januari 2026, Stagnan di Level Rp2.887.000 per Gram
Nilai tukar dolar AS yang melemah juga makin mendorong lonjakan permintaan atas emas. Indeks Spot Dolar Bloomberg, indikator utama mata uang AS, turun 1,6 persen pekan lalu dan mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Mei, membuat logam mulia lebih murah bagi sebagian besar pembeli.
Trump Bikin Ketidakpastian Pasar Menjadi-jadi
Pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump pada 24 Januari juga menambah ketidakpastian di pasar.
mengatakan ia akan mengenakan tarif 100 persen pada Kanada jika negara itu melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan China dan memperingatkan Perdana Menteri Kanada Mark Carney bahwa kesepakatan tersebut akan membahayakan negaranya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ilustrasi-emas-batangan__OK.jpg)