Gejolak Rupiah
Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp16.755 per Dolar AS, Berikut Sentimennya
Kebijakan The Fed menahan suku bunga serta eskalasi Timur Tengah mendorong investor ke aset aman.
Ringkasan Berita:
- Rupiah ditutup melemah ke Rp16.755 per dolar AS, dipicu penguatan dolar dan ketegangan geopolitik global.
- Kebijakan The Fed menahan suku bunga serta eskalasi Timur Tengah mendorong investor ke aset aman.
- Dari dalam negeri, sentimen negatif pasar saham dan isu MSCI menambah tekanan terhadap rupiah.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah melemah pada perdagangan Kamis (29/1/2026) sore, seiring menguatnya dolar Amerika Serikat dan meningkatnya tekanan sentimen global maupun domestik.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut, rupiah ditutup melemah 33 poin ke level Rp16.755 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 85 poin.
Pada penutupan perdagangan Rabu, rupiah berada di posisi Rp16.722 per dolar AS.
"Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 33 point sebelumnya sempat melemah 85 point dilevel Rp.16.755 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.722," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis.
Baca juga: Rupiah Menguat Sore Ini ke Level Rp 16.722 per Dolar AS karena Donald Trump
Untuk perdagangan Jumat (30/1/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif namun cenderung melemah, dengan kisaran Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS.
Ibrahim menyebut, pelemahan rupiah dipicu ketegangan geopolitik. Penguatan dolar didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait sikap Presiden AS Donald Trump terhadap Iran.
Trump dikabarkan tengah mempertimbangkan opsi serangan besar baru terhadap Iran, setelah perundingan mengenai program nuklir dan produksi rudal negara tersebut terhenti. Amerika Serikat juga dilaporkan telah mengerahkan kapal-kapal militernya ke kawasan Timur Tengah.
Selain itu, Trump kembali menegaskan bahwa Iran harus menghentikan program nuklirnya dan mencapai kesepakatan yang dianggap adil oleh Washington. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar global terhadap potensi konflik berskala besar, sehingga mendorong investor beralih ke aset aman seperti dolar AS.
Sentimen eksternal lainnya datang dari kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Bank sentral AS memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75 persen.
"Kebijakan moneter Federal Reserve mengungkapkan bahwa para pembuat kebijakan memutuskan untuk mempertahankan suku bunga tidak berubah pada kisaran 3,50 persen-3,75?lam pemungutan suara 10-2, karena Gubernur Fed Stephen Miran dan Christopher Waller (salah satu calon pilihan Trump untuk menggantikan Jerome Powell) memilih untuk memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin," tegas dia.
Sementara dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah turut datang dari sentimen negatif pasar modal Indonesia.
Analis Goldman Sachs Group Inc menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight, menyusul kekhawatiran terkait evaluasi kelayakan investasi oleh MSCI Inc.
Goldman Sachs memperingatkan, jika Indonesia diturunkan statusnya dari pasar negara berkembang menjadi frontier market, potensi arus keluar dana bisa mencapai lebih dari 13 miliar dolar AS.
Kekhawatiran tersebut semakin diperkuat oleh masalah rendahnya free float saham dan konsentrasi kepemilikan di sejumlah emiten besar, yang dinilai mengganggu likuiditas pasar.
"Saham Indonesia anjlok 7,4% pada Rabu setelah MSCI mengumumkan akan menunda perubahan indeks hingga regulator menangani kekhawatiran terkait kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi pada perusahaan terdaftar, dengan alasan masalah fundamental dalam hal kelayakan investasi," ucap Ibrahim.
"Intinya, kekhawatiran terkait rendahnya free float jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan telah muncul sebagai titik masalah bagi saham Indonesia," sambungnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/nilai-tukar-rupiah-melemah_20240124_212244.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.