Gejolak Rupiah
Tekanan Rupiah Masih Berlanjut di Pekan Besok, Bersiap Tembus Rp17.000 per Dolar AS
Konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, serta keluarnya dana asing menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar.
Ringkasan Berita:
- Rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada pekan depan dan berpotensi mendekati level Rp17.000 per dolar AS di tengah ketidakpastian global.
- Konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, serta keluarnya dana asing menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar.
- Analis memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp16.850–Rp17.100 per dolar AS dengan kemungkinan intervensi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tekanan mata uang rupiah diramal masih berlanjut pada pekan depan dan berpotensi tembus level Rp17.000 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, Jumat (6/3/2026), rupiah ditutup melemah 20 poin di level Rp16.925 dari penutupan sebelumnya di level Rp.16.903.
Sedangkan, rupiah JISDOR Bank Indonesia (BI) melemah Rp 33 atau 0,20 persen menjadi Rp 16.919 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Dampaknya Bisa Langsung ke Kantong Masyarakat
"Pergerakan rupiah dalam minggu depan range 16.850-17.100," kata Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi dikutip Minggu (8/3/2026).
Ia menjelaskan, faktor eksternal menekan rupiah yaitu konflik di Timur Tengah yang memasuki hari ketujuh pada hari Jumat tanpa tanda-tanda bakal mereda.
"Ini membuat pasar keuangan global tetap waspada," ucapnya.
Kemudian dari dalam negeri, Fitch sendiri memproyeksikan bahwa rasio pendapatan negara terhadap PDB Indonesia hanya akan mencapai rata-rata 13,3% terhadap PDB selama periode 2026-2027, jauh tertinggal dari median negara setara di kategori 'BBB' yang berada di level 25,5%.
Pemerintah, melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan salah satu upaya yang sedang
didorong untuk mengerek penerimaan bersama Kementerian Keuangan adalah implementasi pembaruan
sistem inti administrasi perpajakan alias Coretax.
"Revisi prospek dari Fitch tersebut menjadi perhatian khusus pemerintah. Pemerintah akan mengevaluasi dan memperbaiki arah kebijakan ke depan, terutama dalam memitigasi risiko dari sisi penerimaan negara yang dinilai lemah oleh Fitch," tuturnya.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah saat ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Sehingga kondisi tersebut mendorong investor global mencari aset yang lebih aman sehingga permintaan terhadap dolar AS meningkat.
“Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen yang memburuk akibat memanasnya situasi di Timur Tengah,” ujar Lukman dikutip dari Kontan.
Selain faktor geopolitik, kenaikan harga minyak dunia juga turut menekan mata uang Garuda.
Harga minyak yang lebih tinggi berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca perdagangan dan inflasi domestik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/nilai-tukar-rupiah-melemah_20240124_212250.jpg)