IHSG Anjlok hingga Trading Halt, DPR: Ujian Ketahanan Pasar Bukan Rapuhnya Ekonomi
IHSG anjlok hingga trading halt dua hari, DPR sebut ujian pasar sementara, Menkeu tetap optimistis.
Ringkasan Berita:
- IHSG anjlok hingga memicu trading halt dua hari berturut-turut.
- Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan menilai gejolak ini hanya ujian ketahanan pasar berbasis sentimen, bukan tanda rapuhnya fundamental ekonomi.
- Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tetap optimistis IHSG akan tembus 10.000 pada akhir tahun, menyebut tekanan pasar akibat kebijakan MSCI hanya bersifat sementara.
TRIBUNNEWS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga memicu trading halt dua hari berturut-turut.
Trading halt adalah penghentian sementara aktivitas perdagangan saham di bursa efek, biasanya diberlakukan ketika terjadi gejolak ekstrem agar pasar tidak semakin panik.
Mekanisme ini berfungsi sebagai cooling period bagi investor untuk menilai situasi sebelum perdagangan dilanjutkan kembali
Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Partai Demokrat Marwan Cik Asan, menilai gejolak ini hanyalah ujian ketahanan pasar berbasis sentimen, bukan tanda rapuhnya fundamental ekonomi nasional.
Menurut Marwan, tekanan pasar dipicu oleh respons investor terhadap pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI), terkait transparansi data kepemilikan dan free float saham Indonesia.
MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan utama investor institusi dunia, termasuk dana kelolaan raksasa seperti reksa dana global, dana pensiun, dan exchange traded fund (ETF).
Indeks MSCI digunakan untuk menentukan alokasi investasi lintas negara, termasuk klasifikasi suatu negara sebagai Developed Market, Emerging Market, atau Frontier Market.
Dalam pengumumannya, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak mengimplementasikan penambahan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI).
“Isu ini kerap ditafsirkan berlebihan sebagai ancaman sistemik, padahal sifatnya teknis dan administratif. MSCI tidak menjatuhkan vonis, melainkan memberikan peringatan untuk pembenahan,” kata Marwan, kepada wartawan Kamis (29/1/2026).
Marwan menegaskan indikator makroekonomi Indonesia masih relatif solid.
Pertumbuhan ekonomi bertahan di kisaran 5 persen, inflasi terjaga, defisit transaksi berjalan terkendali, cadangan devisa memadai, serta rasio utang terhadap PDB tetap rendah.
“Tidak ada guncangan fundamental yang cukup kuat untuk menjelaskan koreksi IHSG sedalam ini. Karena itu, situasi saat ini harus dibaca sebagai ujian ketahanan pasar, bukan sinyal rapuhnya perekonomian,” ucapnya.
Marwan mengapresiasi langkah OJK dan BEI yang berkomitmen menindaklanjuti rekomendasi MSCI, terutama dalam peningkatan transparansi dan penguatan tata kelola.
Dia juga mengimbau investor untuk menjaga perspektif jangka menengah dan panjang.
“Pasar tidak membutuhkan kepanikan, melainkan keyakinan yang rasional. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan komitmen reformasi berkelanjutan, pasar modal Indonesia akan semakin matang dan kredibel,” pungkasnya.
Baca juga: IHSG Anjlok, Marwan Demokrat Tegaskan Fundamental Ekonomi Tetap Kuat