Kamis, 9 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Dampak ke Masyarakat Indonesia Adanya Perang Israel-Amerika Vs Iran

Penutupan Selat Hormuz mengganggu 30% perdagangan minyak global, memicu kenaikan ongkos logistik dan impor.

|
Tangkap layar video Viory
SERANGAN KE IRAN - Kepulan asap tebal terlihat menjulang di atas Iran pada hari Minggu (1/3/2026), hari kedua operasi tempur 'berskala besar' AS dan Israel. 

Ringkasan Berita:
  • Konflik melibatkan Israel, Amerika Serikat, dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia, berpotensi menekan subsidi dan APBN.
  • Penutupan Selat Hormuz mengganggu 20 persen perdagangan minyak global, memicu kenaikan ongkos logistik dan impor.
  • Dampaknya, harga BBM, biaya angkut, dan bahan pokok di Indonesia berisiko naik dalam beberapa minggu ke depan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perang Israel-Amerika Serikat (AS) vs Iran memberikan dampak negatif ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Dampak yang dirasakan masyarakat Indonesia yaitu potensi kenaikan harga barang impor, melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM), hingga akhirnya harga bahan pokok menjadi makin mahal.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, memanasnya tensi di Timur Tengah imbas serangan Israel-AS ke Iran memicu kenaikan harga energi.

Baca juga: 9 Bulan setelah Perang 12 Hari, Iran Hadapi Serangan AS-Israel, Negosiasi Nuklir Terancam

"Harga minyak Brent sudah menyentuh US$ 73 per barel dari yang sebelumnya sempat di US$ 65 per barel di awal Februari. Bisa jadi harga minyak global akan menyentuh US$ 120 per barel sama seperti ketika Rusia melakukan invasi ke Ukraina,” tutur Nailul dikutip dari Kontan, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, ditutupnya Selat Hormuz dapat mengurangi pasokan minyak global secara signifikan, karena sekitar 20 persen perdagangan minyak mentah global melewati jalur tersebut.

“Berkurangnya pasokan minyak otomatis menaikkan harga minyak mentah dunia,” kata Nailul.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur pelayaran tersibuk dan paling strategis bagi perdagangan energi dan barang global, telah ditutup dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat.

Penutupan jalur ini otomatis menghambat arus kapal dagang yang membawa barang dan komoditas, sehingga kelancaran distribusi barang impor dan ekspor Indonesia berpotensi terganggu dalam waktu dekat.

Selain itu, potensi keterlibatan kelompok Houthi di Laut Merah juga membuka risiko gangguan di Bab el-Mandab. 

PROFIL SELAT HORMUZ - Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi jalur bagi 20 persen pasokan minyak dunia. Selat Hormuz memiliki panjang 161 kilometer dengan titik lebar tersempit hanya 34 kilometer dan memiliki jalur pelayaran masing-masing arah hanya selebar 3 kilometer.
PROFIL SELAT HORMUZ - Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan menjadi jalur pasokan minyak dunia. Selat Hormuz memiliki panjang 161 kilometer dengan titik lebar tersempit hanya 34 kilometer dan memiliki jalur pelayaran masing-masing arah hanya selebar 3 kilometer. (BOA Report)

Jika jalur itu terganggu, arus perdagangan yang melewati Terusan Suez dan Mesir terancam tersendat. Kapal-kapal terpaksa memutar lewat Afrika, memicu kenaikan ongkos logistik global dan harga barang.

Oleh sebab itu, Nailul mengingatkan lonjakan harga minyak akan membebani fiskal. 

Kenaikan harga minyak mentah dan barang impor akan memperbesar subsidi energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM).

“Anggaran kita akan jebol apabila tidak ada realokasi anggaran ke subsidi BBM,” kata dia.

Nailul pesimistis, pemerintah bisa mengandalkan penerimaan negara di tengah ketidakpastian global. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved