Gejolak Rupiah
Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Dampaknya Bisa Langsung ke Kantong Masyarakat
Pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga barang impor seperti BBM, kedelai, elektronik, hingga pangan seperti tempe dan tahu.
Ringkasan Berita:
- Nilai tukar rupiah ditutup di Rp16.905 per dolar AS, tertekan sentimen geopolitik Timur Tengah serta outlook utang Indonesia yang menjadi negatif.
- Pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan harga barang impor seperti BBM, kedelai, elektronik, hingga pangan seperti tempe dan tahu.
- Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah melalui transaksi NDF, DNDF, spot, dan pembelian SBN, dengan cadangan devisa tetap kuat di 154,6 miliar dolar AS.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah semakin mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Tercatat, rupiah pada perdagangan kemarin, Kamis (5/3/2026), ditutup di level Rp 16.905 per dolar AS, turun 0,08 persen dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada Rp 16.892 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan rupiah masih terdampak dari sentimen eksternal yakni meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi ini membuat investor lebih memilih instrumen save haven adalah aset atau instrumen investasi yang cenderung mempertahankan atau meningkatkan nilainya saat pasar keuangan sedang bergejolak, inflasi tinggi, atau krisis geopolitik
Baca juga: Imbas Perang Iran, Harga Tiket Pesawat ke Eropa Tembus Puluhan Juta Rupiah
Dalam perkembangan lain, Ibrahim menyebut, Presiden AS Donald Trump secara resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, sebuah langkah yang dipandang ramah terhadap penurunan suku bunga oleh pasar.
Sedangkan sentimen dari dalam negeri, masih dari penurunan peringkat oulook utang Indonesia jadi negatif.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.900- Rp16.940," tuturnya.
Dampak ke Kantong Masyarakat
Ibrahim menyampaikan, pelemahan rupiah tidak boleh dianggap sesuatu yang biasa, sebab dampaknya akan menambah pengeluaran masyarakat.
"Pelemahan rupiah berdampak pada harga bahan-bahan pokok," ucap Ibrahim.
Ia mencontohkan, barang-barang yang berpotensi naik seperti produk impor yakni bahan bakar minyak (BBM), kedelai, kacang, barang-barang elektronik, dan komoditas lainnya.
Saat rupiah melemah, biaya yang dikeluarkan untuk impor makin tinggi. Dari kondisi ini, penjual akan menaikkan harga jualnya ke masyarakat.
"Pada saat impornya mahal seperti minyak, itu pasti akan berdampak terhadap barang-barang yang lain. transportasi juga naik, kemudian barang-barang naik," paparnya.
"Lalu tempe dan tahu yang bahan bakunya kedelai impor akan lebih mahal. Bisa juga ukurannya ditipisin," sambung Ibrahim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Nilai-Tukar-Rupiah-Terhadap-Dolar-AS_20260305_201606.jpg)