IHSG Pagi Ini Dibuka Melemah di Atas 4 Persen ke Level 7.200-an
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini kembali melemah dengan penurunan tajam di atas 4 persen di level 7.200an pada pembukaan perdagangan pagi.
Ringkasan Berita:
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini kembali melemah dengan penurunan tajam di atas 4 persen di level 7.200an pada pembukaan perdagangan pagi ini.
- Pelaku pasar global memburu aset safe haven yang turut mengangkat indeks dolar AS karena meningkatnya ketidakpastian global karena perang AS-Israel vs Iran.
- Jika konflik berlangsung lama, harga energi berpotensi melonjak tajam dia memperkirakan harga minyak mentah bisa menembus di atas US$100 per barel.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pagi ini kembali melemah dengan penurunan tajam di atas 4 persen di level 7.200an pada pembukaan perdagangan bursa, Senin, 9 Maret 2026.
Pagi ini indeks turun hingga 4,64 persen atau 352,05 ke 7.233,64 setelah dibuka pada level 7.374. IHSG sempat turun ke level terendah 7.252 dengan 36 saham menguat, 573 saham melemah dan 88 saham stagnan.
Pelemahan IHSG pagi ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang mendorong pelaku pasar global memburu aset safe haven yang turut mengangkat indeks dolar AS.
Menurut Pengamat Pasar Modal & Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee, penguatan dolar AS terjadi seiring meningkatnya permintaan terhadap aset aman setelah pecahnya konflik.
Selain itu, Amerika Serikat dinilai relatif lebih diuntungkan dari kenaikan harga energi karena merupakan salah satu eksportir minyak dan gas alam cair (LNG) terbesar di dunia.
Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik AS juga menunjukkan sinyal perlambatan. Data tenaga kerja terbaru memperlihatkan jumlah nonfarm payrolls bertambah jauh di bawah ekspektasi pasar.
“Pasar tenaga kerja AS terlihat melemah dengan data nonfarm payrolls malah berkurang jauh di bawah perkiraan. Inflasi AS akan naik akibat dampak perang,” ujar Hans kepada Kontan, Minggu (8/3/2026).
Dengan begitu menurutnya bank sentral AS diperkirakan akan menahan suku bunga pada pertemuan 18 Maret mendatang.
Sementara peluang pemangkasan suku bunga yang sebelumnya diperkirakan terjadi lebih awal kini mundur, dengan potensi terjadi pada September atau Oktober 2026.
Baca juga: Pagi Ini Rupiah Dibuka Melemah Rp 17.019 Per Dolar AS, Senin 9 Maret 2026
Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan cenderung mempertahankan suku bunga sepanjang tahun ini. Bahkan, tidak menutup kemungkinan terjadi kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi di kawasan Eropa tetap tinggi.
Hans menjelaskan, kawasan Uni Eropa dan Asia berpotensi paling terdampak konflik Iran karena ketergantungan yang besar terhadap impor minyak dan LNG, khususnya yang melewati jalur strategis Selat Hormuz.
Jika konflik berlangsung lama, harga energi berpotensi melonjak tajam dia memperkirakan harga minyak mentah bisa menembus di atas US$100 per barel.
Dalam skenario ekstrem dapat mencapai US$ 120 hingga US$ 150 per barel. Sementara harga LNG berpotensi naik hingga US$ 25 per MMBtu.
Baca juga: Pasar Modal Digempur Sentimen Negatif, Kemarin IHSG Ambles 4 Persen, Ada Ramalan Menuju Level 7.000
Kondisi tersebut juga memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah yang berpotensi melemah akibat penguatan dolar AS selama periode konflik berlangsung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/IHSG-Ditutup-Menguat-Usai-Koreksi-Tajam_20260130_171645.jpg)