Selasa, 2 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Harga Minyak Dunia Meroket, Naik 108 Dolar AS usai Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Baru Iran

Harga minyak dunia melonjak hingga 108 dolar per barel setelah Iran angkat Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru, picu ketegangan pasar global.

Tayang:

Sebaliknya, Iran tetap bersikukuh bahwa program nuklirnya bertujuan untuk kebutuhan energi sipil dan menolak tuntutan penghentian total sebagai syarat yang berlebihan.

Sebagai balasan, Iran segera melancarkan serangan balik menggunakan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

Di tengah meningkatnya konfrontasi militer, Iran mengambil langkah strategis dengan menekan jalur perdagangan energi global.

Pasukan elit Iran, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal komersial agar tidak melintas di Selat Hormuz.

Selat Hormuz dilaporkan dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari, atau hampir seperlima dari total perdagangan minyak global. Ketika jalur ini terganggu, pasar energi dunia biasanya langsung bereaksi.

Penutupan ini membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak dalam jangka panjang.

Tanpa kepastian kapan jalur tersebut akan kembali normal, para pedagang minyak memperkirakan harga energi dapat terus mengalami tekanan naik.

Dengan situasi politik yang belum stabil dan kepemimpinan baru di Iran, pasar energi diperkirakan tetap volatile.

Analis teknikal Reuters memperkirakan lonjakan harga bahkan dapat melesat naik, tembus ke kisaran 120 dolar AS hingga 128 dolar AS atau sekitar Rp2.16 juta per barel dalam waktu dekat.

Dampak Langsung ke Ekonomi Global

Apabila kenaikan harga minyak terus menerus terjadi, hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi biaya produksi dan distribusi di seluruh dunia.

Negara-negara importir energi kini menghadapi tekanan inflasi, karena harga bahan bakar dan barang konsumsi cenderung meningkat.

Situasi ini juga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global, khususnya di negara berkembang yang sangat bergantung pada impor minyak.

Selain itu, ketidakpastian di Selat Hormuz mendorong gangguan rantai pasok energi. Penutupan jalur strategis tersebut oleh Iran sebagai respons atas serangan AS–Israel memaksa perusahaan energi mencari jalur alternatif yang lebih mahal, sehingga meningkatkan volatilitas harga di pasar global.

Lonjakan harga minyak juga berpotensi meningkatkan biaya produksi dan operasional perusahaan di berbagai sektor, dari transportasi hingga industri manufaktur.

Akibatnya, laba perusahaan tertekan dan harga saham banyak emiten cenderung turun. Kondisi ini memicu volatilitas di pasar saham internasional, terutama di negara-negara importir energi.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved