Gempa di Sulut & Malut
BNPB Bentuk Tim Khusus, Hitung Dampak Kerusakan Gempa Sulut dan Maluku Utara
Upaya pencarian dan pertolongan korban terus dilakukan setelah adanya laporan korban jiwa dan potensi korban lain yang masih perlu dievakuasi.
Ringkasan Berita:
- BNPB membentuk tim khusus segera dibentuk untuk memverifikasi dan menghitung dampak kerusakan secara menyeluruh atas gempa bumi 7,6 Magnitudo di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
- Upaya pencarian dan pertolongan korban terus dilakukan setelah adanya laporan korban jiwa dan potensi korban lain yang masih perlu dievakuasi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana RI (BNPB) Suharyanto segera membentuk tim khusus untuk memverifikasi serta menghitung dampak kerusakan secara menyeluruh atas gempa bumi berkekuatan 7,6 Magnitudo di Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
"Hari ini baru terkumpul sebagian. Semakin hari, semakin waktunya berjalan, ini semakin lengkap dan semakin sempurna," kata Suharyanto dalam keterangan resmi yang diterima, Sabtu (4/4/2026).
Selain membentuk tim assessment, BNPB juga kata dia, meminta seluruh jajaran di daerah untuk bisa dengan segera menjangkau masyarakat terdampak, sekaligus memastikan kebutuhan dasar terpenuhi.
Dia juga memerintahkan kepada para petugas yang berada di lokasi bencana untuk dapat memberikan informasi akurat.
"Di sisi lain, apabila ada masyarakat terdampak yang mendapat kesusahan atau asetnya atau rumahnya rusak, segera bisa dilaporkan dan dilakukan penggantian," ujarnya.
Upaya pencarian dan pertolongan juga dipastikan Suharyanto, langsung disiapkan menyusul adanya laporan korban jiwa dan potensi korban lain yang masih perlu dievakuasi.
Dia menegaskan, pemerintah pusat akan segera turun langsung ke lokasi terdampak untuk memastikan penanganan berjalan optimal.
Baca juga: 26 Gempa Bumi Dirasakan Awal April 2026, Termasuk Gempa M 7,6 di Bitung Sulut
"Sesuai petunjuk Bapak Presiden lewat Sekretaris Kabinet, kami tim gabungan dari pusat di bawah koordinasi BNPB ini akan segera hadir, baik di Maluku Utara dan Sulawesi Utara," tegas dia.
Nantinya kata Suharyanto, tim gabungan akan melakukan rapat lanjutan untuk merumuskan langkah penanganan yang lebih rinci dan terkoordinasi dengan semua pihak di daerah.
"Ini adalah rapat awal nanti sesampainya kami disana kita akan rapat lebih rinci dan detail untuk membahas, untuk menemukan dan untuk menyelesaikan segala permasalahan penanggulan bencana yang ada di daerah," tandas Suharyanto.
Perbaikan Infrastruktur Jalan
Menteri Pekerjaan Umum RI (PU) Dody Hanggodo memastikan kalau pemerintah akan langsung melakukan penanganan terhadap infrastruktur jalan yang rusak akibat gempa bumi berkekuatan 7,6 Skala Richter yang mengguncang tiga provinsi yakni Sulawesi Utara, Maluku Utara hingga Gorontalo.
Kata Dody, saat ini pemerintah melalui pihaknya bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) akan langsung melakukan perbaikan terhadap kondisi jalan atau jembatan yang terdampak.
Baca juga: Gempa Guncang Bitung Dua Kali Dini Hari Tadi, Getaran Juga Terasa di Ternate dan Kolaka Timur
"Kalau misalnya ada jalan yang rusak, ada jembatan yang putus, kami akan segera bekerjasama dengan BNPB maupun BPBD maupun dengan TNI Polri untuk paling enggak minimum kita biasanya bikin jembatan sementara dulu," kata Dody saat diskusi bersama media di Kantor Kementerian PU, Jakarta Selatan, Kamis (2/4/2026).
Sektor tersebut menjadi fokus dalam setiap penanganan bencana alam karena berpengaruh pada alur logistik dan bantuan.
Kata dia, jangan sampai bantuan atau pertolongan terhadap warga menjadi terkendala karena rusaknya infrastruktur jalan. "Supaya arus logistik tidak terganggu dan mana kala memang diperlukan nanti berikutnya kita akan bikin yang lebih permanen," kata dia.
"Tapi sementara waktu, kita kejar dulu supaya arus menggunakan manusia atau logistik tidak terganggu gitu, yang itu sudah pasti," sambung Dody.
Terkini, Dody memastikan pihaknya sudah menerjunkan tim guna melihat dan mengevakuasi kondisi terkini di dua provinsi yakni Maluku Utara dan Gorontalo.
Nantinya, pekerjaan terhadap perbaikan jalan dan jembatan yang terdampak dipastikan Dody akan langsung dikerjakan.
"Tim memang sudah jalan ke kedua tempat. Di Maluku Utara sudah ada, tim yang di Gorontalo juga sudah ada," ungkap dia.
Status Potensi Tsunami
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 yang berpusat di wilayah tenggara Bitung, Sulawesi Utara, Kamis (2/4/2026) pagi, mengguncang kuat sejumlah wilayah di Maluku Utara, termasuk Kota Ternate.
Getaran gempa yang terasa cukup lama membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, gempa terjadi pada pukul 05.48.16 WIB dengan lokasi di koordinat 1,25 Lintang Utara dan 126,27 Bujur Timur.
Pusat gempa berada sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 62 kilometer.
BMKG juga mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Peringatan ini disertai estimasi waktu kedatangan gelombang di sejumlah daerah terdampak.
Sejumlah wilayah ditetapkan dalam status Siaga, yakni: Kota Ternate, Halmahera, Kota Tidore, Kota Bitung, Minahasa bagian selatan, Minahasa Selatan bagian selatan dan Minahasa Utara bagian selatan.
Sementara itu, beberapa wilayah lainnya berada dalam status Waspada, meliputi kepulauan Sangihe, Minahasa Utara bagian utara, Bolaang Mongondow bagian selatan.
Status Tsunami Dihentikan
Terkini, BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami setelah gempa magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Maluku Utara, Kamis (2/4/2026).
Meski status tsunami telah dicabut, BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut di sejumlah wilayah serta puluhan gempa susulan yang masih berlangsung.
"Peringatan dini tsunami pascagempa M7,6 di perairan Malut dinyatakan berakhir," tulis keterangan BMKG pada akun X @infoBMKG pada Kamis (2/4/2026) pukul 10.04 WIB.
Gempa tersebut berpusat di laut, sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, dengan kedalaman 33 kilometer.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa gempa tersebut termasuk jenis gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi di Laut Maluku.
“Hasil pemantauan BMKG, terjadi kenaikan tinggi muka air laut di sejumlah wilayah, di antaranya Halmahera Barat pada pukul 06:08 WIB dengan ketinggian 0.30 m, Bitung pada pukul 06:15 WIB dengan ketinggian 0.20 m,” paparnya dilansir dari siaran pers.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/gempaternate222222.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.