Serikat Buruh Ungkap Mirisnya Kondisi Pekerja di Tambang Nikel Morowali
FPE-KSBSI menungkap mirisnya kondisi yang dihadapi pekerja pertambangan nikel khususnya di Morowali dan Morowali Utara.
Ringkasan Berita:
- FPE-KSBSI menungkap mirisnya kondisi yang dihadapi pekerja pertambangan nikel khususnya di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
- Para pekerja di Morowali mengalami gangguan kesehatan diduga akibat menggunakan masker seadanya di lingkungan kerja.
- Industri nikel hanya dapat disebut berkontribusi pada pembangunan nasional bila menghormati HAM, menjaga lingkungan hidup dan menempatkan masyarakat sebagai pusat kajian.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum DPP Federasi Pertambangan dan Energi - Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (FPE-KSBSI) Nikasih Ginting menungkap mirisnya kondisi yang dihadapi pekerja pertambangan nikel khususnya di Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Nikasih mengungkapkan para buruh pertambanhan nikel di wilayah itu selama ini hidup dalam kondisi yang rentan baik secara kesehatan, lingkungan, maupun keselamatan kerja.
Dari sisi kesehatan, kata dia, ia telah menerima laporan dari pekerja anggotanya yang mengalami gangguan kesehatan diduga akibat menggunakan masker seadanya di lingkungan kerja.
Usai bekerja sepanjang hari, anggotanya itu kemudian mendokumentasikan wajahnya.
Berdasarkan foto yang ditunjukkan kepadanya, hampir seluruh bagian wajah anggotanya itu terlihat hitam dan hanya bagian yang tertutup masker seadanya yang terlihat.
Hal itu disampaikannya dalam peluncuran kajian Komnas HAM RI bertajuk Studi Dampak Industri Nikel Terhadap Hak Asasi Manusia di kantor Komnas HAM RI Jakarta Pusat pada Kamis (9/4/2026).
"Anggota ini kemarin dia eh CT scan dan hasil CT scan dari rumah sakit oleh karena lingkungan kerja paru-parunya ada bolong," ungkap Nikasih.
"Itu yang menjadi miris kita mendengarnya sementara ya happy-happy ya, teman-teman mungkin mengendarai kendaraan listrik yang bahan materialnya datang dari kawasan itu," lanjut dia.
Baca juga: Menkeu Purbaya Sentil Pengusaha Nikel: Waktu Untung Diam, Rugi Minta Kompensasi
Dari sisi lingkungan, menurut dia tidak semua masyarakat di sana menikmati air bersih. Ia mencontohkan pengalamannya ketika menyusuri wilayah sungai atau perairan dari Kecamatan Bungku menuju Kecamatan Bahodopi di Morowali terluhat merag.
Ia menduga area tersebut tercemar limbah pertambangan nikel. Akibatnya, nelayan harus melaut lebih jauh karena khawatir atas kondisi itu.
Selain itu banyak masyarakat sekitar mengidap Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). "Ini orang tua ataupun ibu dia bekerja ya, perempuan, anaknya sekolah dan tinggal di lingkungan yang asap cerobong-asap cerobong ada di sekitar situ," ungkapnya.
Sedangkan dari sisi kelamatan kerja, menurutnya Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan oleh para pekerja di sana belumlah memadai.
Padahal, kata dia, sebagian pekerja di pertambangan nikel harus berhadapan dengan suhu 1.500 sampai 1.800 derajat celcius.
"1.500 sampai 1.800 derajat Celcius dengan APD yang seadanya. Makanya penelitian teman kami mengatakan (mereka) budak penjemput mati di Morowali," ungkap dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Nasib-pekerja-tambang-nikel-OK.jpg)