Minggu, 12 April 2026

Bahlil: Harga BBM Subsidi Tak Bakal Naik jika Harga Minyak Mentah 90-100 Dolar AS per Barel

Bahlil menegaskan harga BBM subsidi tidak akan naik ketika harga minyak mentah masih di kisaran 90-100 dolar AS per barel

Ringkasan Berita:
  • Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi tidak akan naik ketika harga minyak mentah masih di kisaran 90-100 dolar AS.
  • Jaminan dari Bahlil ini diperkuat ketika konflik di Timur Tengah segera berakhir.
  • Namun, dia menegaskan BBM non subsidi seperti Pertamax ataupun bahan bakar pesawat, avtur tidak bisa dipastikan kenaikan harganya.
 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan naik hingga akhir tahun 2026.

Namun, dia menegaskan hal tersebut bisa terealisasi ketika harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) masih pada kisaran 100-120 dolar AS.

"Kalau untuk harga (BBM) subsidi, insyaallah kalau sampai dengan 100-120 dolar ICP, insyaallah masih (tidak naik harganya)," kata Bahlil, dikutip dari YouTueb Total Politik, Sabtu (11/4/2026).

Selain itu, Bahlil juga menjamin harga BBM subsidi tidak akan naik ketika konflik di Timur Tengah berhenti.

"Kalau katakanlah perang 2-3 bulan selesai, ya kita nggak perlu naikkan dong," jelasnya.

Kendati demikian, Bahlil mengatakan tidak bisa menjamin tak ada kenaikan dari BBM nonsubsidi, termasuk avtur.

Baca juga: Dorong Efisiensi, Menteri Bahlil Lahadalia Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Energi Sehari-hari

Dia menegaskan meski ada kenaikan harga avtur di Indonesia, tetapi dibanding dengan negara lain masih lebih lurah.

Bahlil juga mengungkapkan ketika pemerintah tidak menaikkan harga avtur, pesawat dari maskapai negara lain akan mengisi bahan bakar di Indonesia.

Akibatnya, pemerintah harus membayar subsidi avtur meski yang mengisi adalah pesawat dari negara lain.

"Kalau tidak kita naikkan harga avtur, itu semua airlines (maskapai) akan datang transit ke Indonesia dan akan mengisi di Indonesia. Dan kemudian negara harus membayar subsidinya," ujarnya.

Bahlil juga menjelaskan kemampuan produksi atau lifting minyak mentah di Indonesia.

Dia menyebut Indonesia mampu untuk melakukan lifting sebanyak 605 ribu barel per hari.

Sementara, kata Bahlil, kebutuhan Tanah Air mencapai 1,6 juta barel per hari. Hal itu mengakibatkan pemerintah harus tetap melakukan impor.

"Kita punya kebutuhan 1,6 juta barel per day. Lifting kita 605 ribu barel day. Artinya kita impor 1 juta barel per day," tuturnya.

Kemudian, selama setahun, kebutuhan BBM Indonesia mencapai 40 juta ton untuk bensin dan 36 juta ton solar.

Baca juga: Bahlil Pusing saat Cadangan LPG Menipis, Sebut Stok Saat Ini Sudah di Atas 10 Hari

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved