BI Redam Risiko Fluktuasi Rupiah Lewat Intervensi NDF dan SRBI
BI berupaya menjaga agar mekanisme pasar tetap berjalan efektif di tengah volatilitas untuk meredam fluktuasi nilai tukar rupiah.
Ringkasan Berita:
- BI berupaya menjaga agar mekanisme pasar tetap berjalan efektif di tengah volatilitas untuk meredam fluktuasi nilai tukar rupiah.
- Bank sentral melakukan intervensi melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar global, serta spot dan Domestic NDF (DNDF) di dalam negeri.
- BI berupaya menarik kembali aliran modal masuk (capital inflow) melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gejolak geopolitik global yang dipicu meningkatkan ketegangan di Timur Tengah kembali memberi tekanan ke pasar keuangan terutama pada arus modal dan nilai tukar mata uang di negara berkembang.
Indonesia pun tak luput dari tekanan tersebut, seiring meningkatnya permintaan dolar AS dan terjadinya aliran modal keluar (outflow) dari pasar domestik.
Merespons kondisi ini, Bank Indonesia memastikan akan terus mengawal stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen, baik di pasar domestik maupun global.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) Bank Indonesia Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, langkah utama yang ditempuh adalah menjaga agar mekanisme pasar tetap berjalan efektif di tengah volatilitas.
"Merespons ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah khususnya di Iran. Bank Indonesia terus melanjutkan upaya-upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Jadi intinya yang kami lakukan adalah kami mencoba mendorong agar mekanisme pasar itu terus berjalan secara efektif," ucap Erwin dalam Banking Forum 2026, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).
BI juga memberikan arahan kepada pelaku pasar ketika volatilitas dinilai melampaui batas toleransi. Tujuannya agar keseimbangan antara permintaan dan penawaran valas tetap terjaga, khususnya untuk kebutuhan riil kegiatan ekonomi.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.137 per Dolar AS, BI Siap Jaga Stabilitas di Tengah Gejolak Global
Erwin menyampaikan, Bank Indonesia secara aktif melakukan intervensi di berbagai lini, mulai dari pasar offshore hingga domestik.
Intervensi dilakukan melalui instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar global, serta spot dan Domestic NDF (DNDF) di dalam negeri.
BI juga memantau pergerakan pasar global selama 24 jam, khususnya transaksi NDF di pasar internasional seperti New York, yang menjadi acuan awal pergerakan pasar domestik.
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik, terutama pasca meningkatnya konflik di Iran pada akhir Februari.
Baca juga: AS Tutup Selat Hormuz, IHSG Dibuka Melemah, Bursa Saham Asia Loyo
Erwin mengakui arus modal keluar (capital outflow) sempat terjadi dalam skala besar, meski kini mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Namun kondisi tersebut tetap menambah tekanan terhadap permintaan dolar AS, di samping kebutuhan korporasi untuk impor dan pembayaran utang.
Untuk mengimbangi tekanan tersebut, BI berupaya menarik kembali aliran modal masuk (capital inflow), salah satunya melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Penyesuaian imbal hasil dilakukan secara bertahap agar tetap menarik bagi investor.
"Outflow ini tentu akan menimbulkan tekanan terhadap permintaan dolar AS. Sehingga yang kami upayakan adalah kami terus mendorong agar terjadi proses adjustment secara gradual khususnya terkait dengan SRBI yang menjadi instrumen Bank Indonesia agar inflow pada pasar SRBI terus terjadi," jelasnya.
Baca juga: Harga Minyak Brent Meroket di Atas 103 Dolar Per Barel Gara-gara Perintah Blokade Selat Hormuz
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Erwin-Gunawan-Hutapea-_OK.jpg)