Rabu, 22 April 2026

Harga Minyak Dunia Naik Tembus 100 Dolar AS, DPR Dukung Pemerintah Cari Alternatif Pasokan Energi

situasi global saat ini menunjukkan tekanan serius terhadap sektor energi, terutama akibat eskalasi konflik antara Iran melawan AS

Editor: Sanusi
HO/IST/HO/IST
HARGA ENERGI NAIK - Konflik di Timur Tengah memberikan tekanan global saat ini, tercermin dari lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus angka 100 dolar AS per barel. Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, harga Brent dan WTI sempat berada di kisaran 102–106 dolar AS per barel akibat kegagalan perundingan dan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. 

Ringkasan Berita:
  • Situasi global saat ini menunjukkan tekanan sangat serius terhadap sektor energi imbas perang di Timur Tengah.
  • Terjadi lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus angka 100 dolar AS per barel. 
  • Indonesia harus memperkuat fondasi energi nasional agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak global.

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Fraksi Partai Golkar DPR mendukung langkah cepat dan kerja keras Presiden Prabowo Subianto bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah ancaman krisis energi global.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji mengatakan, situasi global saat ini menunjukkan tekanan yang sangat serius terhadap sektor energi, terutama akibat eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, serta kegagalan perundingan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, yang tidak mencapai kesepakatan.

Baca juga: Analis: Guncangan Energi Bakal Lebih Berat, Terlihat dari Tren Harga Minyak Terbaru

“Kita menghadapi situasi global yang tidak mudah. Konflik geopolitik di Timur Tengah telah memicu guncangan besar pada pasar energi dunia. Dalam kondisi seperti ini, Presiden Prabowo Subianto dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia benar-benar bekerja keras, bahkan bisa dikatakan banting tulang, untuk memastikan Indonesia tetap aman dari ancaman krisis energi,” ujar Sarmuji dikutip Selasa (14/4/2026).

Ia menjelaskan, tekanan global saat ini tercermin dari lonjakan harga minyak dunia yang kembali menembus angka 100 dolar AS per barel. 

Bahkan, dalam beberapa hari terakhir, harga Brent dan WTI sempat berada di kisaran 102–106 dolar AS per barel akibat kegagalan perundingan dan meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Selain itu, gangguan distribusi energi di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia makin memperparah kondisi pasar energi global. 

Bahkan, dalam skenario terburuk, harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga mendekati 150 dolar AS per barel jika konflik terus bereskalasi dan pasokan terganggu lebih jauh.

Sarmuji, yang juga Sekretaris Jenderal Partai Golkar, menegaskan kondisi ini membuat upaya mencari alternatif pasokan energi menjadi sangat sulit.

“Dalam situasi normal saja mencari sumber pasokan energi alternatif bukan hal mudah. Apalagi dalam kondisi global seperti sekarang, ketika banyak negara juga berebut sumber energi yang sama. Karena itu, langkah cepat pemerintah menjadi sangat krusial. Menteri ESDM bahkan harus melobi banyak negara, mulai dari kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, Amerika hingga negara-negara Afrika, termasuk Rusia, untuk mengamankan stok energi nasional,” ujarnya.

Krisis ini, dia mengingatkan, bahkan telah disebut sebagai salah satu gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah, dengan dampak langsung pada inflasi global, distribusi energi, hingga potensi krisis ekonomi di berbagai negara.

Dalam konteks tersebut, Sarmuji menilai pemerintah Indonesia telah mengambil langkah antisipatif yang tepat, mulai dari menjaga stok energi nasional, mengamankan rantai pasok, hingga memperkuat diplomasi energi dengan berbagai negara mitra.

“Yang dilakukan Presiden dan Menteri ESDM bukan sekadar respons biasa, tetapi langkah strategis untuk memastikan Indonesia tidak terjebak dalam krisis energi global yang bisa berdampak luas terhadap ekonomi dan kesejahteraan rakyat,” kata legislator dari Jawa Timur tersebut.

Fraksi Partai Golkar DPR RI, kata Sarmuji, akan terus mendukung kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional, termasuk mendorong percepatan diversifikasi energi dan penguatan ketahanan energi dalam negeri.

“Kita harus memperkuat fondasi energi nasional agar tidak terlalu rentan terhadap gejolak global. Apa yang dilakukan pemerintah saat ini adalah bagian penting dari upaya tersebut,” ujarnya. 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

BizzInsight

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved