Permintaan Ruang Perkantoran di Gedung Premium Diprediksi Meningkat
Hampir 90 persen karyawan Indonesia memiliki sentimen positif terhadap kerja di kantor, jauh di atas rata-rata global sebesar 72 persen.
Ringkasan Berita:
- Permintaan ruang perkantoran di gedung-gedung premium seperti Jakarta diprediksi meningkat seiring dengan tren kebijakan kembali bekerja dari kantor.
- Permintaan ruang kantor pada kuartal IV 2025 merupakan yang terkuat sejak kuartal III 2019.
- Tidak adanya tambahan pasokan baru hingga 2028, ruang tersedia di gedung premium di Jakarta
- diperkirakan semakin terbatas dalam beberapa tahun ke depan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Permintaan ruang perkantoran di gedung-gedung premium di kota besar Indonesia diprediksi meningkat seiring dengan tren kebijakan kembali bekerja dari kantor.
JLL Indonesia dalam rilis temuan terbaru Workforce Preference Barometer mendapati temuan bahwa Indonesia menjadi pemimpin global dalam penerapan kebijakan kembali ke kantor
(return-to-office/RTO).
Berdasarkan temuan riset ini, sebanyak 87 persen karyawan korporasi di Indonesia kini bekerja di bawah mandat RTO atau skema hybrid terstruktur, tertinggi di dunia dan hampir dua kali rata-rata Asia Pasifik.
Baca juga: Sasar Pekerja, Kemenkes akan Perluas Cek Kesehatan Gratis ke Perkantoran hingga Pusat Perbelanjaan
Temuan ini turut mengubah dinamika pasar perkantoran nasional, seiring meningkatnya kembali aktivitas kerja fisik dan pulihnya permintaan terhadap ruang kantor berkualitas tinggi, khususnya di gedung premium di Jakarta.
Hampir dua pertiga pekerja Indonesia diwajibkan bekerja dari kantor penuh waktu, jauh lebih tinggi dibanding pasar hybrid seperti Australia dan Singapura. Tingginya tingkat kehadiran ini mendorong pemulihan pasar perkantoran.
Saat ini tekanan dari sisi suplai mulai mereda. Gelombang pembangunan gedung perkantoran
baru telah berakhir, sementara permintaan mulai pulih secara bertahap terutama untuk gedung Grade A
berkualitas premium.
Permintaan ruang kantor pada kuartal IV 2025 merupakan yang terkuat sejak kuartal III 2019. Dengan
tidak adanya tambahan pasokan baru hingga 2028, ruang tersedia di gedung premium di Jakarta
diperkirakan semakin terbatas dalam beberapa tahun ke depan.
Kepala Departemen Riset JLL Indonesia James Taylor bilang, tren ini menjadi sinyal positif bagi siklus
pasar perkantoran.
“Indonesia menunjukkan momentum pemulihan yang kuat. Tingginya kebijakan kembali ke kantor mulai mengurangi tingkat kekosongan, terutama di gedung Grade A," ujarnya.
"Dengan pasokan baru yang terbatas dalam beberapa tahun ke depan, perusahaan yang membutuhkan ruang berkualitas tinggi perlu mengambil keputusan lebih cepat untuk mengamankan lokasi strategis,” lanjutnya.
Survei terbaru menunjukkan hampir 90 persen karyawan Indonesia memiliki sentimen positif terhadap kerja di kantor, jauh di atas rata-rata global sebesar 72 persen.
Sebanyak tiga perempat pekerja kantor di Indonesia juga menilai kolaborasi tatap muka membuat mereka
bekerja lebih efektif, dibandingkan rata-rata global yang hanya 50 persen.
Bahkan, lebih dari separuh responden menyatakan preferensi bekerja langsung dari tempat kerja perusahaan. Namun, meningkatnya kehadiran di kantor turut diiringi ekspektasi baru dari karyawan.
Sekitar dua pertiga pekerja Indonesia menginginkan peningkatan fasilitas kantor sebagai imbal balik atas kehadiran mereka jauh lebih tinggi dibanding rata-rata global yang hanya 39 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Suasana-gedung-perkantoran-di-kawasan-premium-di-Jakarta.jpg)